Sabtu, 8 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Senat AS Sahkan Kepala TSA Baru di Tengah Dorongan Privatisasi

kepala TSA baru dan privatisasi keamanan bandara
Senat AS mengesahkan kepala TSA baru saat pemerintah Trump mendorong privatisasi keamanan bandara kecil. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Senat Amerika Serikat mengesahkan kepala TSA baru, David Cummins, pada Jumat, di saat pemerintahan Donald Trump mendorong keamanan pemeriksaan bandara kecil dialihkan ke perusahaan swasta.

Persetujuan itu datang lewat pemungutan suara 51-47 dan ikut meloloskan sejumlah nominasi lain untuk Consumer Product Safety Commission, National Transportation Safety Board, Surface Transportation Board, Christopher Phelan di White House Council of Economic Advisers, serta Cameron Hamilton untuk Federal Emergency Management Agency.

Dorongan privatisasi makin jelas

Cummins sebelumnya menjabat senior vice president di Serco, perusahaan yang menyediakan layanan engineering, IT, dan pelatihan untuk klien pemerintah maupun komersial. Penunjukan ini sejalan dengan arah kebijakan Gedung Putih yang ingin memperluas penggunaan petugas keamanan swasta di bandara-bandara kecil.

Dalam usulan anggaran April, Trump meminta pemotongan lebih dari $1,5 miliar, atau sekitar 20%, dari anggaran tahunan TSA. Lembaga yang mengelola keamanan bandara itu memiliki 60.000 pegawai, dan rencana pemangkasan disebut akan menekan beban kerja sekaligus mengubah struktur operasi yang dibangun setelah serangan 11 September 2001.

Bagian paling sensitif dari rencana itu ialah kewajiban bagi bandara kecil untuk memakai perusahaan keamanan swasta. Langkah ini diproyeksikan menghapus lebih dari 4.500 posisi TSA. Dari sisi kebijakan, ini bukan sekadar pergantian pejabat. Arah besarnya jauh lebih penting: apakah pengamanan bandara tetap dikelola negara, atau perlahan bergeser ke model kontrak swasta.

Bandara sudah mulai bergerak

Sejumlah bandara telah memberi sinyal bakal mengikuti skema itu. Tampa, Des Moines di Iowa, dan Charleston di South Carolina disebut telah menyatakan rencana beralih ke keamanan swasta.

Di sisi lain, sekitar 20 bandara, termasuk di San Francisco, Kansas City, dan Sarasota di Florida, sudah memakai petugas pemeriksa swasta selama bertahun-tahun. Artinya, gagasan ini bukan hal baru di Amerika Serikat, meski skala yang didorong pemerintahan Trump kini jauh lebih besar.

Masalahnya, transisi semacam itu tidak berlangsung mulus. TSA baru saja melewati periode goyah setelah Trump memecat kepala TSA David Pekoske pada hari pertamanya menjabat pada 2025, lalu tidak mengajukan pengganti selama 16 bulan. Pekoske sendiri pernah diajukan Trump pada masa jabatan pertama dan kemudian kembali dinominasikan Presiden Joe Biden untuk masa tugas lima tahun kedua.

Situasi makin rumit setelah penutupan pemerintah yang panjang pada musim semi ini. Sekitar 50.000 pekerja TSA tidak menerima gaji selama enam minggu, dan antrean pemeriksaan keamanan di bandara sempat membengkak hingga empat jam atau lebih. Kondisi itu memperlihatkan betapa rentannya sistem keamanan bandara ketika beban kerja, pendanaan, dan kepemimpinan sama-sama terguncang.

Penolakan dari maskapai besar

Rencana Gedung Putih untuk memperbanyak petugas keamanan swasta juga menghadapi resistensi. Airlines for America, kelompok yang mewakili maskapai-maskapai besar di Amerika Serikat, menyatakan penolakannya secara terbuka.

Bagi industri penerbangan, keputusan Senat atas Cummins menandai awal fase baru yang akan diuji di lapangan. Jika privatiasi bertambah luas, bandara kecil bisa menjadi arena percobaan kebijakan paling keras, sementara pekerja TSA menghadapi ancaman pengurangan ribuan posisi.

Langkah berikutnya akan terlihat dari seberapa cepat bandara-bandara yang sudah menyatakan minat itu benar-benar memindahkan operasi pemeriksaan ke tangan swasta.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda