JAKARTA — Senat Amerika Serikat meloloskan sanksi Rusia yang lama diperjuangkan mendiang Senator Lindsey Graham. RUU itu disetujui Jumat dengan suara 86-11 dan sekarang tinggal menunggu pembahasan di DPR sebelum bisa masuk ke meja Presiden Donald Trump.
Aturan ini dirancang untuk menekan ekonomi Rusia lewat jalur yang paling sensitif: energi. RUU tersebut mengincar para pemimpin Rusia dan menjatuhkan sanksi berat ke negara-negara yang membeli minyak dan gas dari Rusia, termasuk ancaman tarif tinggi bagi pembeli utama.
Sanksi Rusia dibawa ke DPR
Dalam naskah yang dibahas Senat, Presiden Trump diberi kewenangan menjatuhkan tarif sampai 100% kepada pengimpor besar energi Rusia. CNBC menyebut pembatasan itu menyasar negara yang masuk daftar lima pembeli utama minyak mentah atau gas Rusia, termasuk China dan India. NPR juga melaporkan bahwa rancangan ini memperluas tekanan ekonomi agar Kremlin kesulitan membiayai perang di Ukraina.
RUU yang sama juga memperluas sanksi terhadap Iran. Langkah itu muncul setelah Trump memberi sinyal dukungan, begitu pula Ketua DPR Mike Johnson. Namun, jalan di DPR tidak akan mulus. Sejumlah anggota Demokrat disebut khawatir karena rancangan ini memberi Trump kewenangan tarif baru yang luas.
Warisan Lindsey Graham ikut menempel
Lindsey Graham, politisi Partai Republik dari South Carolina, menjadi salah satu pendukung paling vokal untuk sanksi baru terhadap Rusia. Sebelum meninggal mendadak bulan lalu pada usia 71 tahun, ia sempat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan menyampaikan bahwa ia sudah mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih untuk mendorong RUU itu.
Setelah Graham wafat, rekan-rekannya di Senat sepakat memberi nama legislasi ini untuk menghormatinya. Di lantai Senat, Darline Graham, yang ditunjuk mengisi sisa masa jabatan sang kakak, mengatakan, “My late brother Lindsey was a foreign policy and national security expert. He was also a peace maker who was determined to bring an end to the conflict in Ukraine,”.
Ia juga menegaskan logika utama di balik rancangan itu: “The war against Ukraine is primarily funded by the revenue Russia rakes in from energy sales,”. Menurut dia, tanpa pemasukan itu, kemampuan Rusia membiayai perang akan terpukul keras. “Without these profits the ability to fund the war would be crippled. This legislation hits Putin where it hurts. “
Dampaknya ke pasar energi dan politik AS
Bagi pasar global, sanksi Rusia seperti ini bukan sekadar urusan diplomasi. Kebijakan yang menyentuh pembelian minyak dan gas bisa memaksa negara-negara besar menghitung ulang pasokan energi, biaya impor, dan jalur dagang mereka.
Di Washington, rancangan ini juga menunjukkan bahwa perang Ukraina masih menjadi arena tarik-menarik antara dukungan ke Kiev, tekanan terhadap Moskow, dan kehati-hatian soal kewenangan tarif presiden.
CNBC melaporkan DPR sedang reses hingga September, sehingga jadwal pembahasan lanjutan belum dekat. Itu berarti sorotan kini bergeser ke ruang politik berikutnya: apakah mayoritas di DPR cukup aman untuk meloloskan aturan yang sudah lolos telak di Senat, atau justru keberatan soal tarif baru akan mengerem laju RUU ini.
Di titik itu, nama Lindsey Graham tetap menempel pada rancangan yang ia dorong sampai akhir hidupnya. Dan kalimat yang diulang para senator sesudah pemungutan suara terdengar jelas: tekanan ekonomi ini ditujukan langsung ke sumber dana perang Rusia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.