Di sinilah dampaknya terasa. Jika pembicaraan ini gagal, arus kapal dagang di salah satu jalur laut paling strategis di dunia bisa tetap berada di bawah tekanan. Itu berarti ketidakpastian bagi pengiriman energi, premi risiko pelayaran, dan kalkulasi keamanan negara-negara di Teluk. Bukan cuma Iran dan Amerika Serikat yang terdampak, tetapi juga pemain regional yang bergantung pada jalur itu.
Tekanan militer dan aliansi baru
Ketegangan di sekitar Hormuz makin berat setelah Uni Emirat Arab pada Sabtu menuduh Iran menyerang kapal tanker milik perusahaan energi negara ADNOC saat melintas di selat itu. Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu “hostile” dan mengatakan tidak ada korban jiwa.
UEA juga menuduh IRGC melakukan “acts of piracy” dengan menyerang kapal kargo komersial dan menggunakan selat itu untuk menekan ekonomi Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Pada Jumat, ADNOC mengatakan Iran telah menyerang 15 kapalnya dengan rudal dan drone sejak konflik dimulai pada akhir Februari, “including three vessels this week alone.” Klaim itu menambah daftar panjang insiden yang membuat pengiriman lewat jalur ini kian rawan.
Di saat yang sama, Saudi Arabia, Turkey, dan Pakistan pada Jumat mengumumkan aliansi keamanan baru yang disebut punya kemiripan kuat dengan prinsip pertahanan kolektif ala NATO.
Ketiganya menandatangani pakta pertahanan yang ditujukan untuk memperkuat pencegahan kolektif terhadap setiap bentuk agresi.
Kesepakatan itu dibaca luas sebagai sinyal pergeseran peta kekuatan kawasan, sekaligus langkah berjaga-jaga terhadap ketidakpastian peran jangka panjang Amerika Serikat dalam keamanan Teluk.
DW juga menyebut para analis melihat kesepakatan Iran-Oman, bila benar-benar rampung, bisa mengubah pengaruh regional dan memunculkan pertanyaan baru tentang keamanan pelayaran. Di sisi lain, sanksi, kekhawatiran keamanan, dan tujuan yang saling bertabrakan antara Washington dan Teheran masih bisa membatasi efek nyata dari kesepakatan itu.
Ketika negosiasi terus bergerak, Omani Ministry tetap menahan nada optimistis. Tapi pesan dari Tehran tidak berubah. “The reopening of the Strait of Hormuz is subject to other conditions,” kata Araghchi, dan untuk saat ini, syarat itu belum jatuh ke meja yang sama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.