Abdolreza Davari, analis yang pernah menjadi penasihat mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, menegaskan bahwa yang dicari Iran bukan semata pemasukan. Ia mengatakan, “More than revenue from the strait, Iran wants to confirm its management and sovereignty over the strait,” saat berbicara lewat telepon dari Teheran.
Mahdi Mohammadi, penasihat untuk negosiator utama Iran, juga menulis di media sosial: “They started the war, but its end was never with them. We always decide for ourselves when it ends,” lalu menambahkan, “Iran is going after the enemy’s defeat — not an agreement.”
Bagi Iran, kontrol formal atas sebagian selat akan menjadi kemenangan jelas. Bagi AS, itu berarti kegagalan mencapai sejumlah target perang yang terus berubah. Dampaknya juga melebar ke dunia: kebebasan navigasi akan terganggu dan preseden baru tercipta, bahwa negara bisa menutup titik sempit perdagangan sesuka hati.
China ikut memberi sinyal. Negara itu, yang membeli minyak dari Iran dan punya pengaruh atas Tehran, masih mengatakan pada Mei bahwa “normal and safe passage” melalui selat itu harus dipulihkan.
Risiko di dalam negeri Iran belum hilang
Masalahnya, Iran juga tidak berada di posisi nyaman. Serangan AS dan Israel telah menghantam basis industrinya. Blokade AS menahan ekspor minyak. Di dalam negeri, warga menghadapi inflasi pangan yang mencapai triple-digit.
Ketegangan ekonomi itu sudah memicu gejolak. Pada Desember, krisis mata uang memantik salah satu gelombang protes anti-pemerintah terbesar dalam 47 tahun sejarah Republik Islam. Aparat merespons dengan penindasan berdarah yang menewaskan ribuan orang dan menahan puluhan ribu lainnya.
Karena itu, suara kehati-hatian makin keras terdengar di Tehran. Mostafa Najafi, analis keamanan berbasis di Teheran, menyebut Selat Hormuz telah menjadi “strategic lever for deterrence, maintaining the regional balance of power, and reshaping the security rules in the Persian Gulf.”
Rahman Ghahremanpour, analis yang berbasis di Iran, menilai isu nuklir juga terdorong ke pinggir oleh konflik di selat itu. Jika pembicaraan nuklir dibuka lagi, kontrol atas Hormuz akan memberi Iran daya tawar baru. Dan untuk saat ini, kartu itu masih mereka genggam rapat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.