JAKARTA — bank sentral Asia mulai mencari cara baru untuk menjaga stabilitas mata uang tanpa terus mengandalkan cadangan devisa. Langkah ini muncul saat ketidakpastian global masih tinggi, dari konflik di Timur Tengah sampai prospek suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lama.
Tekanan itu sudah terasa di pasar. Lonjakan harga minyak setelah ketegangan di Iran dan AS ikut menambah beban negara-negara Asia yang masih bergantung pada impor energi, sementara sejumlah mata uang di kawasan ini masuk kelompok dengan kinerja terburuk sepanjang tahun ini.
Strategi bank sentral Asia bergeser
Dikutip dari Bloomberg, Minggu (9/8), bank-bank sentral di Asia kini tidak hanya mengandalkan kenaikan suku bunga dan intervensi di pasar valuta asing. Mereka juga berusaha menarik lebih banyak aliran dolar dari dalam maupun luar negeri.
Perubahan pendekatan ini penting. Soalnya, bank sentral tidak bisa terus-menerus menjual devisa di pasar setiap kali nilai tukar tertekan. Di saat yang sama, mereka juga harus menjaga agar likuiditas domestik tetap cukup bergerak.
Head of Asia FX and Rates Strategy BofA Global Research, Claudio Piron, mengatakan dorongan kebijakan ini pada dasarnya berkaitan dengan upaya menjaga cadangan devisa.
Ia menyebut: “Berbagai faktor memang mendorong kebijakan ini, tetapi pada dasarnya semuanya bermuara pada upaya mempertahankan cadangan devisa sebaik mungkin di tengah volatilitas dan ketidakpastian yang secara struktural lebih tinggi.”
Claudio menambahkan, negara-negara Asia perlu menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan kebutuhan mempertahankan likuiditas domestik. Karena itu, menarik aliran dana masuk menjadi salah satu strategi penting.
India, Korea Selatan, Indonesia, Taiwan
Sejumlah negara sudah bergerak. India berhasil menghimpun hampir USD 40 miliar atau sekitar Rp 715 triliun dari masyarakat diaspora melalui simpanan dolar dengan imbal hasil tinggi. Langkah ini ikut menopang pemulihan rupee setelah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Mei.
Korea Selatan menempuh jalan berbeda. Pemerintah mendorong perusahaan mempercepat repatriasi atau membawa kembali pendapatan dalam dolar ke dalam negeri. Dampaknya, won mencatat penguatan bulanan terbesar sejak 2022.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.