Produk olahan yang dihasilkan warga kini mulai memiliki tempat di pasar lokal. Konsumen tak lagi melihat hasil laut Kampung Terih sebagai komoditas murah, melainkan produk UMKM yang punya nilai jual. Keberhasilan ini memang bergantung pada konsistensi para warga dalam menjaga kualitas rasa dan pengemasan. Tanpa standar yang terjaga, produk tersebut sulit menembus pasar yang lebih luas.
Pihak Pertamina tetap memantau perkembangan kelompok binaan ini secara berkelanjutan. Harapannya, kampung ini bisa menjadi contoh bagaimana masyarakat pesisir mampu mengoptimalkan kekayaan alam laut mereka dengan cara yang cerdas.
Kini, setiap kali nelayan membawa pulang hasil tangkapan, bukan lagi raut cemas yang muncul karena fluktuasi harga. Mereka tahu, hasil laut tersebut akan segera diolah menjadi pundi-pundi rupiah yang lebih pasti di tangan para perempuan tangguh di rumah mereka masing-masing.
Langkah selanjutnya bagi pelaku UMKM di sini adalah memperluas jaringan distribusi produk. Mereka tidak hanya dituntut untuk pintar mengolah, tetapi juga harus mulai melek pasar digital agar produk olahan laut khas Kampung Terih bisa sampai ke meja makan konsumen di luar wilayah Batam.
Kemandirian ini bukan lagi sekadar impian, melainkan sudah menjadi realitas di setiap sudut kampung tua yang kini berbenah diri.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.