Selasa, 11 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Sandra Sarantou Desak PM Australia Ubah Aturan Telehealth VAD

Peralatan medis dan teknologi untuk konsultasi telehealth VAD
Perdebatan mengenai aturan telehealth VAD di Australia masih berlanjut di tengah tuntutan akses yang lebih mudah bagi warga di wilayah terpencil. (Ilustrasi: AI)

ADELAIDE — Sandra Sarantou, seorang warga Adelaide berusia 58 tahun, menyampaikan permintaan terakhirnya kepada Perdana Menteri Anthony Albanese.

Sarantou yang tengah bersiap mengakhiri hidupnya melalui mekanisme voluntary assisted dying (VAD) atau bantuan kematian sukarela, mendesak pemerintah untuk segera merevisi aturan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Criminal Code) Australia yang menghambat akses pasien di wilayah terpencil.

Sembilan minggu lalu, Sarantou didiagnosis mengidap kanker paru-paru agresif yang serupa dengan penyakit yang merenggut nyawa ayahnya. Saat ini, pengobatan medis sudah tidak mampu meredam nyeri saraf, mual, serta pusing yang ia derita.

Berangkat dari pengalaman melihat ayahnya menahan sakit sebelum VAD legal, ia merasa bersyukur memiliki pilihan untuk mengakhiri penderitaannya. Namun, ia merasa terguncang saat mengetahui bahwa aturan federal justru menyulitkan akses bagi sesama pasien yang tinggal jauh dari pusat kota.

Hambatan Hukum di Balik Telehealth VAD

Persoalan utama terletak pada interpretasi ketentuan dalam Commonwealth Criminal Code yang melarang penggunaan layanan komunikasi untuk menghasut bunuh diri. Aturan ini, sayangnya, dianggap mencakup konsultasi dokter melalui telepon, surel, internet, hingga video terkait VAD.

Dampaknya, dokter tidak dapat memberikan saran atau pendampingan jarak jauh kepada pasien yang membutuhkan, bahkan ketika pasien tersebut tidak lagi mampu melakukan perjalanan jauh akibat kondisi fisik yang melemah.

Ketimpangan akses ini menjadi sorotan serius. Data dari laporan “State of VAD” oleh grup advokasi Go Gentle menunjukkan tingginya permintaan akses di luar kota besar. Pada periode 2024-25, tercatat 39 persen pemohon VAD tinggal di wilayah rural atau terpencil.

Kurangnya tenaga medis di daerah memaksa banyak pasien menempuh perjalanan jauh, sesuatu yang sering kali mustahil bagi mereka yang sudah berada di ambang kematian.

Dokter umum Scott Lewis, yang telah menempuh perjalanan 3.000 kilometer dalam dua pekan terakhir hanya untuk menemui pasien VAD, mengakui adanya rasa gagal ketika pasiennya tidak mendapatkan akses tepat waktu. Baginya, kendala tenaga medis dan minimnya pendanaan Medicare menjadi faktor penghambat utama yang menyebabkan pasien harus menderita lebih lama.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 11 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir