Untuk menguji apakah ada pengaruh pada neuroplastisitas, plasma darah setelah retret diberikan ke neuron di cawan laboratorium. Sel-sel itu tumbuh dengan neurit yang lebih panjang dibandingkan sel yang mendapat plasma sebelum retret. Dari sini, peneliti melihat ada indikasi bahwa kondisi tubuh peserta ikut berubah, bukan hanya persepsi mereka saat mengisi kuesioner.
Angka yang membuat studi ini menonjol
Perubahan lain juga muncul di darah. Peneliti melaporkan pergeseran ke metabolisme glikolitik, sinyal modulasi imun, dan kenaikan opioid endogen, yakni zat pereda nyeri alami dalam tubuh. Di sisi pengalaman subjektif, skor Mystical Experience Questionnaire atau MEQ-30 naik dari 2.37 menjadi 3.02.
Nilai itu yang membuat studi ini ramai dibicarakan di kalangan sains pikiran-tubuh. Para peneliti menyebut kenaikan tersebut sebanding dengan hasil yang kerap terlihat pada penggunaan psilosibin.
Hemal Patel, peneliti biomedis dari UC San Diego, mengatakan, “This isn’t about just stress relief or relaxation,” lalu menambahkan, “This is about fundamentally changing how the brain engages with reality and quantifying these changes biologically.”
Patel juga menegaskan, “We’re seeing the same mystical experiences and neural connectivity patterns that typically require psilocybin, now achieved through meditation practice alone.” Ia menambahkan, “Seeing both central nervous system changes in brain scans and systemic changes in blood chemistry underscores that these mind-body practices are acting on a whole-body scale.”
Kenapa temuan ini penting
Bagi pembaca, dampaknya ada pada cara kita memandang meditasi. Selama ini meditasi sering dilekatkan pada relaksasi, tidur lebih nyenyak, atau penurunan stres. Studi ini mendorong percakapan yang lebih luas: apakah latihan pikiran yang intensif, jika digabung dalam satu retret, bisa memengaruhi sistem tubuh secara lebih mendalam?
Kalau temuan seperti ini terus diperkuat riset yang lebih besar, industri kesehatan mental dan kebugaran bisa ikut terdorong untuk menata ulang program retret, pelatihan napas, hingga kelas meditasi terpandu. Tapi publik juga perlu menahan ekspektasi.
Studi ini hanya kecil, observasional, dan tidak punya kelompok kontrol. Artinya, peneliti belum bisa memastikan retret meditasi sebagai penyebab langsung semua perubahan yang mereka lihat.
Ada satu catatan yang juga tidak kecil. Salah satu penulis studi, Joe Dispenza, adalah CEO perusahaan Encephalon yang menggelar retret meditasi yang dibahas dalam riset ini, sekaligus menjual akses ke konten meditasi dan penyembuhan lain.
Fakta itu membuat pembaca perlu melihat hasil studi dengan lebih hati-hati, meski para peneliti sendiri sudah mengakui perlunya desain riset yang lebih ketat di studi berikutnya.
Patel menutup penjelasannya dengan satu hal yang terasa paling penting: “We’ve known for years that practices like meditation can influence health. But what’s striking is that combining multiple mind-body practices into a single retreat produced changes across so many biological systems that we could measure directly in the brain and blood.”
Temuan itu masih jauh dari kata final, tapi angka yang muncul cukup jelas: 20 peserta, skor MEQ-30 naik dari 2.37 ke 3.02, dan perubahan terukur muncul di otak serta darah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.