GARDEN CITY — Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 14 Agustus, mengancam akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah Iran “dikalahkan”. Pernyataan itu disampaikan Trump di sebuah rapat umum di akademi kepolisian di Garden City, New York, di saat harga energi terus tertekan akibat perang dengan Tehran.
Ucapan Trump langsung memicu respons keras dari Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menegaskan negaranya tidak akan terintimidasi dan menyebut jalur laut strategis itu tetap berada di bawah kendali dan otoritas Iran. Tegangan di selat yang vital bagi pengiriman energi dunia itu pun kembali naik.
Selat Hormuz dan ancaman baru Trump
Trump mengatakan dirinya akan “soon” atau segera mengumumkan langkah itu. Dalam pidatonya, ia menyebut, “After we finish defeating Iran, which is being very badly defeated — pretty soon I’ll be declaring the Hormuz Strait a territory of the United States,” lalu menambahkan, “It’s true.”
Ia juga menegaskan bahwa kapal tidak akan bisa lewat tanpa izin Washington. “We have the blockade. No ships get through unless we want them to,” kata Trump di hadapan para pendukungnya. Pernyataan itu belum jelas apakah dimaksudkan serius atau sekadar tekanan politik baru dalam perang yang sudah berjalan lebih dari lima bulan.
Di titik ini, Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Menurut bahan sumber, sebelum perang, sekitar seperlima pengiriman minyak dunia dan gas alam cair melewati selat tersebut. Begitu Iran menutup jalur itu sebagai balasan atas serangan AS dan Israel, harga energi langsung melonjak.
Iran balas menekan, pasar energi ikut terguncang
Iran dan AS kini saling mengunci. Tehran menyerang sekutu AS di Timur Tengah dengan drone dan rudal, lalu memblokade Selat Hormuz. Washington membalas dengan blokade laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran. Hasilnya, jalur vital itu terjebak dalam kebuntuan yang belum pecah sampai sekarang.
Rapat umum Trump juga dipakai untuk mengirim pesan ke publik Amerika. Ia meminta warga menerima kenaikan harga bensin yang menurutnya hanya “a tiny little bit more” sebagai harga yang pantas untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Trump menyebut apa yang dilakukan AS sebagai “a great service for the world, not only for ourselves”.
Kalimat pendeknya tajam. Harganya nyata. Dan dampaknya terasa jauh melampaui Amerika. Saat pasokan energi dari kawasan Teluk tersendat, tekanan biasanya merambat ke pasar minyak, biaya logistik, dan harga bahan bakar di banyak negara, termasuk negara-negara importir yang bergantung pada jalur laut tersebut.
Dalam bahan sumber, perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari dengan tujuan mengakhiri program nuklir Iran dan memicu pergolakan internal untuk menjatuhkan pemerintahan di Tehran. Namun, seperti dilaporkan The Guardian, SCMP, dan CNA, perang justru membuat Selat Hormuz makin diperebutkan dan negosiasi damai tetap buntu.
Jelang pemilu, isu energi jadi beban politik
Trump juga mengaitkan naiknya biaya minyak dan gas dengan perang yang sedang berlangsung. Menurut bahan sumber, beban ekonomi akibat konflik ini kemungkinan akan menjadi isu utama dalam pemilu paruh waktu pada November. Artinya, harga energi bukan cuma urusan pasar, tapi juga taruhannya politik di Washington.
Di tengah semua itu, Trump ikut meredam kritik soal kondisi di kapal induk USS Abraham Lincoln yang dikerahkan ke Timur Tengah. Keluarga prajurit AS sempat mengeluhkan kondisi hidup yang sulit dan kesehatan mental yang memburuk, bahkan muncul laporan percobaan bunuh diri. Trump menolak anggapan bahwa kapal itu sudah terlalu lama dikerahkan dan menyebut masa tugasnya justru “not nearly enough”.
Ia juga mengonfirmasi kapal tersebut akan diganti oleh kapal lain yang “very similar”. Dengan perang yang belum mereda dan Selat Hormuz masih terkunci, perhatian publik kini tertuju pada langkah Washington berikutnya dan apakah ancaman terbaru Trump hanya jadi tekanan retoris atau awal dari kebijakan baru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.