Minggu, 16 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

AS Siapkan Sanksi Iran, Trump Tak Peduli Dampak ke Midterms

Sanksi Iran dan tekanan ekonomi dari pemerintah AS
Gedung Putih disebut menyiapkan sanksi Iran yang lebih keras di tengah perang yang sudah hampir enam bulan. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Sanksi Iran kembali menguat sebagai alat tekanan Washington. Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat sedang menyiapkan langkah ekonomi yang belum pernah dipakai sebelumnya untuk menghantam ekonomi Iran, sementara ia tak memedulikan apakah konflik itu selesai sebelum pemilu sela Amerika Serikat pada November.

Pernyataan itu datang saat perang yang melibatkan Iran sudah mendekati enam bulan. Trump, dalam wawancara singkat dengan Fox News, menegaskan fokusnya adalah memaksa Teheran menyerah, bukan meredakan tekanan agar nyaman secara politik di dalam negeri.

Sanksi Iran jadi alat tekan utama

Sumber utama menyebut pemerintah Amerika Serikat sedang menyiapkan langkah ekonomi “yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Iran. Arah kebijakan ini memperlihatkan bahwa Gedung Putih ingin menaikkan biaya perang dan mendorong Teheran ke posisi tawar yang lebih lemah.

Trump juga mengaitkan konflik itu dengan perang yang telah berjalan hampir enam bulan. Ia menegaskan tidak peduli bila perang berhenti sebelum pemilu sela November, yang biasanya sangat dipengaruhi persepsi pemilih terhadap kondisi ekonomi.

Pada saat yang sama, Trump kesulitan mencari jalan keluar dari perang tersebut. Sumber utama menyebut ia masih belum menemukan “off-ramp” atau jalan mundur yang jelas dari eskalasi yang sudah terlanjur berjalan lama.

Tekanan politik belum jadi pertimbangan utama

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump memberi sinyal bahwa hitungan politik domestik tidak akan mengubah arah kebijakannya. Baginya, yang utama adalah menekan ekonomi Iran agar pemerintah di Teheran tidak punya banyak ruang bertahan.

Itu berarti pemilu sela Amerika Serikat tidak otomatis menjadi rem bagi eskalasi. Justru sebaliknya, Trump tampak ingin menunjukkan bahwa perang dan tekanan ekonomi bisa terus berjalan meski ada kekhawatiran soal dampaknya ke pemilih, pasar, dan suasana politik di Washington.

Fortune melaporkan Trump bahkan menepis kekhawatiran soal lamanya penempatan kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan. Dalam laporan itu, ia berkata, “I’ll never apologize” dan menambahkan, “I did the right thing.”

Armada, perang, dan tanda-tanda kelelahan

Fortune menyebut penempatan USS Abraham Lincoln sudah berlangsung lebih dari 240 hari tanpa jeda, sebuah durasi yang memicu sorotan soal kondisi awak kapal, pasokan, dan beban operasi. Acting navy secretary Hung Cao mengatakan Lincoln “will return home soon” lewat unggahan media sosial pada Jumat.

Di laporan lain, PBS NewsHour menyoroti bagaimana perhatian Trump juga bergeser ke Iran dan belahan bumi barat, sementara Financial Times menyebut polemik kapal induk itu sebagai tanda meningkatnya kegelisahan atas perang Iran. Dua laporan itu memperkuat gambaran bahwa perang bukan cuma soal medan tempur, tetapi juga soal ketahanan logistik dan dukungan politik yang terus terkikis.

Bagi pasar dan kebijakan energi, pernyataan Trump soal menghantam ekonomi Iran jelas bukan kabar kecil. Setiap sinyal baru dari Washington bisa langsung dibaca sebagai pertanda tekanan yang lebih keras, dan itu berpotensi memengaruhi ekspektasi soal arah perang, suplai, serta respons sekutu Amerika di kawasan.

Trump sendiri tampak tetap pada garis keras. Dalam penampilannya di Garden City, New York, ia mengakui telah memakai militer Amerika “a little bit more than I wanted to,” namun tetap menyebut operasi terhadap Iran berjalan baik. Soal harga minyak, ia juga tak menunjukkan niat mundur.

“I’ll never apologize,” kata Trump. “I did the right thing.”

Dengan nada seperti itu, pasar dan lawan politiknya sekarang menunggu langkah ekonomi berikutnya. Gedung Putih belum memberi batas waktu, dan sanksi Iran tampaknya baru masuk fase yang lebih keras.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda