TEHRAN — Iran pada Sabtu, 15 Agustus, membantah klaim Donald Trump yang mengatakan ia akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Tehran menegaskan jalur energi penting itu tetap berada di bawah kendali Iran.
Ujaran silang ini langsung menambah panas ketegangan di jalur laut yang sudah lama jadi titik tekan perang di Timur Tengah. Bagi pasar energi, Selat Hormuz bukan sekadar nama di peta. Ini rute vital yang setiap gejolak kecilnya bisa merambat ke harga minyak dan gas.
Iran tegaskan Selat Hormuz tetap di tangan Tehran
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan bantahan itu lewat X. “The Strait of Hormuz has been Iranian, is Iranian, and will remain Iranian,” katanya.
Ia juga menulis bahwa, “This strait will only be closed and opened under Iran’s command.” Kalimat itu menegaskan sikap Tehran bahwa mereka masih memegang kendali atas pintu keluar-masuk energi paling sensitif di kawasan Teluk.
Trump sebelumnya mengatakan dalam sebuah rapat politik di negara bagian New York pada Jumat bahwa, setelah AS mengalahkan Iran, ia akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Seorang pejabat Gedung Putih yang tak disebut namanya kemudian menjelaskan kepada Wall Street Journal bahwa Trump bercanda.
Tapi bagi Iran, pernyataan semacam itu tetap dibaca sebagai tekanan politik. Gharibabadi juga menyebut keputusan membuka dan menutup selat hanya berada di bawah komando Iran. Nada Tehran jelas. Tidak ada ruang untuk tafsir lain.
Serangan kapal masih berlangsung
Kekhawatiran soal Selat Hormuz bukan datang dari retorika saja. CNA melaporkan bahwa serangan terhadap kapal di kawasan itu terus terjadi, memperlihatkan risiko nyata bagi pelayaran regional. Diplomasi antara dua musuh lama itu juga masih macet.
Pada Sabtu, perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab, ADNOC, mengatakan salah satu kapalnya diserang pada malam sebelumnya. Kementerian luar negeri Abu Dhabi kemudian menyalahkan Iran dan menuduh Garda Revolusi Iran melakukan “acts of piracy” di selat itu. Pada Jumat, UEA juga menyalahkan Iran atas serangan lain terhadap dua kapal yang terkait ADNOC saat melintas di jalur yang sama.
Rangkaian insiden itu disebut ikut mendorong runtuhnya gencatan senjata April antara Amerika Serikat dan Iran. Artinya, setiap serangan di perairan ini bukan hanya soal kapal yang rusak atau rute yang terganggu. Ada efek lanjutan ke meja perundingan yang sudah rapuh sejak awal.
Iran juga punya sekutu Houthi di Yaman yang mengumumkan blokade maritim paralel terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi di Laut Merah. Bagi kawasan penghasil minyak, dua jalur ini sama-sama krusial. Bila salah satunya terganggu, tekanan ke rantai pasok bisa menyebar cepat.
Dampak ke pasar energi dan politik Washington
Sebelum perang, Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima ekspor minyak dan LNG dunia. Itu sebabnya setiap ancaman di jalur ini langsung membuat harga kembali bergejolak. Dalam bahan sumber, harga disebut berulang kali melonjak sejak sengketa selat itu memanas.
Efeknya juga terasa di Washington. Trump menghadapi tekanan politik karena penutupan selat menaikkan harga bagi pemilih Amerika, sementara pemilu paruh waktu November makin dekat. Wakil Presiden AS JD Vance pada pekan ini mengatakan prioritas utama Washington adalah menjaga harga energi tetap rendah bagi warga Amerika, sedangkan mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir berada di urutan kedua.
Di sisi lain, Iran menginginkan kendali lebih besar atas selat itu dan ingin memungut biaya lintas, sesuatu yang menurut bahan sumber tidak pernah mereka lakukan sebelum perang dan ditentang keras oleh AS. Tehran juga menyampaikan pekan lalu bahwa mereka telah menyepakati rute dengan Oman untuk kapal-kapal yang transit melalui selat itu, sambil menyelesaikan pengaturan pengelolaan bersama.
Washington sendiri sudah menjatuhkan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan ekonomi Tehran. Trump bahkan berkata di hadapan pendukungnya pada Jumat, “We have the blockade. No ships get through unless we want them to.”
Pernyataan itu menutup satu hal dengan terang: Selat Hormuz tetap menjadi alat tekan politik, jalur dagang energi, dan titik bentur militer dalam satu paket. Selama serangan kapal masih berlanjut dan perundingan tak bergerak, kawasan ini akan terus jadi sumber risiko bagi pasar global.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.