Untuk mendukung argumennya, Isbitts mengutip sejarah imbal hasil 10 tahun S&P 500 sejak 1928. Rata-rata return tahunan majemuk 10 tahun indeks itu berada di sekitar 10,2%.
Namun, tidak semua periode memberi hasil setinggi itu. Sekitar 75% dari seluruh jendela rolling 10 tahun di sejarah Amerika Serikat menghasilkan return nominal tahunan majemuk di atas 7%. Sebaliknya, dalam kira-kira 25% periode 10 tahun, S&P 500 gagal mencapai return 7% per tahun.
Ia menyebut beberapa periode “lost decades”, termasuk jendela 10 tahun yang dimulai pada 1929, 1968, dan 1999. Pada fase seperti itu, return tahunan majemuk bisa turun di bawah 3% atau bahkan negatif selama satu dekade penuh.
Apa dampaknya bagi investor
Soalnya, pilihan antara obligasi dan saham tidak lagi sesederhana mengejar pertumbuhan. Bagi investor yang butuh perlindungan pokok, kepastian pendapatan, atau punya horizon waktu yang jelas, imbal hasil tetap dari obligasi pemerintah bisa menjadi penyangga yang lebih tenang dibanding volatilitas saham.
Isbitts menulis bahwa bila seseorang harus membiayai target tertentu — termasuk dana untuk membeli rumah dalam beberapa tahun — mengunci sebagian portofolio di obligasi bisa mengurangi ketergantungan pada pasar saham yang naik-turun. Ia juga menegaskan bahwa dalam horizon 15 sampai 30 tahun, saham tetap punya daya tumbuh karena compounding dan dividen yang bisa naik seiring waktu.
Yang jadi titik tekan artikelnya bukan memilih satu aset untuk semua orang. Ia menilai pasar sekarang memberi sinyal bahwa investor tidak harus 100% di saham, apalagi ketika imbal hasil obligasi jangka panjang bertahan di kisaran 4% sampai 5% untuk waktu yang lebih panjang.
Dan di situlah letak pesan utamanya: keputusan membeli obligasi, menurut Isbitts, bisa tampak biasa saja hari ini, tapi mungkin justru terasa sangat masuk akal ketika orang melihat kembali satu dekade ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.