JAKARTA — Uni Eropa menawarkan bantuan sistem satelit Copernicus untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan korban gempa NTT M7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur. Tawaran itu disampaikan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen lewat akun X resminya pada Sabtu (15/8/2026).
Langkah ini datang saat tim SAR masih menghadapi akses sulit ke sejumlah wilayah terdampak longsor dan kerusakan infrastruktur. Data dari udara dibutuhkan cepat, terutama ketika jalur darat belum terbuka penuh.
Copernicus dipakai untuk pemetaan cepat
Von der Leyen menulis, “Dari solidaritas menjadi tindakan, Eropa senantiasa siap mengerahkan Copernicus, mata kami di langit, untuk mendukung upaya pencarian dan penyelamatan. Indonesia, kami berdiri bersamamu,” kata von der Leyen.
Copernicus adalah sistem observasi bumi milik Uni Eropa yang memanfaatkan data satelit untuk memantau kondisi permukaan Bumi. Dalam situasi bencana, data itu bisa dipakai untuk memetakan wilayah terdampak dengan cepat dan membantu otoritas menentukan titik yang butuh penanganan lebih dulu.
Dalam kondisi seperti gempa NTT M7,7, manfaat itu langsung terasa di lapangan. Ketika komunikasi terganggu dan akses jalan terputus, gambar satelit membantu petugas membaca sebaran kerusakan tanpa harus menunggu seluruh wilayah bisa dijangkau kendaraan atau berjalan kaki.
Korban terus bertambah, rumah rusak meluas
Tawaran Uni Eropa itu muncul setelah gempa NTT memicu korban jiwa, kerusakan bangunan, longsor, dan gangguan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak. Situasi itu membuat operasi pencarian korban berjalan lebih berat dari biasanya.
Berdasarkan pembaruan BNPB hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 18.48 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT mencapai 47 orang. Korban tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang, dan Ende 1 orang.
Kerusakan rumah juga meluas. BNPB mencatat 157 rumah rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan berdasarkan data sementara pada hari yang sama. Angka itu memberi gambaran bahwa dampak gempa tidak berhenti pada korban jiwa, tapi juga merusak tempat tinggal dan memaksa penanganan darurat bergerak ke banyak titik sekaligus.
Dampak langsung ke operasi SAR
Di lapangan, bantuan seperti Copernicus bisa memangkas waktu pencarian lokasi prioritas. Tim SAR bisa memetakan area yang tertutup longsor, melihat jejak kerusakan atap atau jalan, lalu mengatur rute masuk yang lebih aman. Itu penting karena setiap jam sangat menentukan dalam penyelamatan korban bencana.
Gempa NTT M7,7 juga sempat memicu peringatan tsunami. Peringatan itu kemudian dicabut setelah pemantauan kondisi laut, meski gelombang kecil sempat tercatat di sejumlah wilayah. Situasi yang berubah cepat membuat data pengamatan jadi rujukan penting bagi otoritas untuk menyusun langkah berikutnya.
Von der Leyen menutup pernyataannya dengan pesan singkat yang menegaskan posisi Uni Eropa. “Terrible news from Indonesia today.My thoughts are with the families who have lost loved ones in this devastating earthquake.From solidarity to action, Europe stands ready to deploy Copernicus, our eyes in the sky, to support search and rescue efforts.Indonesia, we stand…”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.