Kursi empuk di ruang rapat strategis pemerintah mungkin sudah akrab bagi banyak orang, namun bagi Burhanuddin Abdullah, tempat itu adalah medan tempur intelektual yang tak pernah usai.
Pria yang kini menginjak usia 79 tahun tersebut kembali muncul ke permukaan, membawa segudang pemikiran tentang arah ekonomi kita di tengah gejolak pasar yang tak terduga.
Bukan sekadar nostalgia karier, kehadirannya saat ini justru menjadi pengingat keras bagi para pembuat kebijakan tentang pentingnya disiplin fiskal di atas segala kepentingan politik jangka pendek.
Bagi Burhanuddin, ekonomi bukan sekadar grafik yang bergerak naik atau turun di layar monitor. Ia melihatnya sebagai detak jantung kesejahteraan masyarakat. Fokus utamanya sejak dulu sangat sederhana, namun eksekusinya sering kali pelik: menjaga inflasi agar tidak liar.
Tanpa kendali harga yang mapan, ia meyakini ekonomi negara berkembang seperti Indonesia akan selalu mudah terguncang oleh angin kencang dari pasar global.
Fondasi Kepercayaan Publik
Ia sangat keras soal satu hal: kepercayaan. Tanpa kepercayaan masyarakat, sistem keuangan akan lumpuh. Itulah mengapa ia berkali-kali menekankan bahwa otoritas moneter dan fiskal tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinkronisasi. Sinergi. Kerjasama yang jujur antara pemerintah dan Bank Indonesia adalah harga mati untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Transparansi bukanlah pilihan, tapi kewajiban. Selama puluhan tahun memegang kompas kebijakan, Burhanuddin sadar bahwa pelaku pasar sangat sensitif terhadap sinyal. Sekali saja otoritas terlihat ragu atau tidak konsisten, pasar akan bereaksi brutal.
“Langkah terukur,” begitu jargon yang sering ia dengungkan. Baginya, setiap kebijakan ekonomi yang lahir harus bisa dipertanggungjawabkan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Ia tidak hanya bicara soal teori makro yang membosankan di ruang kelas. Pengalaman panjangnya di berbagai posisi puncak pemerintahan memberikan ia akses langsung pada realita di lapangan. Ia tahu persis bagaimana sebuah keputusan di level kabinet bisa berdampak pada harga beras di pasar tradisional atau daya beli buruh di kawasan industri.
Disiplin yang Tak Pernah Luntur
Sektor riil mungkin adalah pihak yang paling merasakan dampak dari pemikirannya. Ketika Burhanuddin bersuara soal pentingnya stabilitas harga, para pelaku usaha langsung memasang telinga. Kepastian ekonomi adalah bahan bakar utama bagi mereka untuk ekspansi. Tanpa itu, pengusaha akan lebih memilih menahan modal daripada mengambil risiko di tengah ketidakpastian.
Sikapnya yang kukuh memegang prinsip disiplin fiskal sering kali dianggap kaku oleh sebagian kalangan. Namun, ia tak peduli.
Baginya, kedaulatan ekonomi suatu bangsa diukur dari sejauh mana negara mampu menjaga keuangan rumah tangganya sendiri tanpa terus bergantung pada utang atau intervensi asing yang merugikan.
Integritas kebijakan yang ia usung bukan sekadar slogan, melainkan tameng untuk menghalau guncangan ekonomi eksternal yang makin hari makin sulit ditebak.
Di usianya yang sudah tidak lagi muda, semangat Burhanuddin untuk mengawal stabilitas keuangan nasional masih tampak tajam. Ia tetap menjadi rujukan, sosok pembawa obor yang memantau setiap pergerakan kebijakan dari dekat. Baginya, tugas mengabdi untuk ketahanan ekonomi negara tidak memiliki masa pensiun.
Kini, tantangannya justru semakin besar. Dengan dinamika pasar yang kian kompleks dan ancaman krisis global yang selalu mengintai, konsistensi yang ia tawarkan menjadi relevan kembali.
Ia terus mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi bukan dihitung dari seberapa cepat pertumbuhan dalam setahun, tetapi seberapa kokoh fondasi yang kita bangun untuk generasi mendatang.
Langkah selanjutnya tinggal bagaimana para pengambil kebijakan saat ini mampu menerjemahkan disiplin tersebut ke dalam aksi nyata yang berdampak pada rakyat.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.