JAKARTA — Ratna Sari Dewi kembali ke Istana Merdeka pada Senin, 17 Agustus 2026, untuk menghadiri perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia. Kehadirannya langsung menarik perhatian karena istana itu pernah lekat dengan perjalanan hidupnya bersama Presiden pertama RI, Soekarno.
Kunjungan itu bukan sekadar nostalgia. Dari sana, publik kembali menengok kisah awal pertemuan pasangan ini di Jepang, sebelum hubungan mereka berkembang menjadi pernikahan pada 1962. Setelah puluhan tahun, Dewi datang dengan ingatan yang masih utuh tentang kawasan istana yang pernah ia kenal dekat.
Ratna Sari Dewi melihat banyak perubahan di Istana
Dalam pertemuan dengan awak media, Ratna Sari Dewi mengaku melihat banyak perbedaan di sekitar Istana Merdeka dan Istana Negara. Ia menyinggung halaman besar yang dulu ada di antara dua bangunan itu.
“Istananya sudah ganti banyak, ya. Ada yang dulu tidak ada. (Dulu) antara Istana Negara dan Istana Merdeka ada halaman yang besar, sekarang ada gedung,” tuturnya kepada awak media.
Dewi juga mengenang koleksi foto yang dulu dimilikinya di sekitar istana. Namun, menurut dia, sebagian koleksi itu sudah hilang. “Ada koleksi (foto) Bapak juga banyak sudah (hilang), ya. Sayang sekali.”
Pengakuan itu memberi lapisan emosional pada kunjungannya. Istana bukan cuma tempat upacara kenegaraan. Bagi Dewi, ada memori pribadi yang menempel di sana, bersama nama besar yang masih melekat kuat pada sejarah Indonesia.
Awal pertemuan Soekarno dan Ratna Sari Dewi di Jepang
Sebelum dikenal sebagai Ratna Sari Dewi Soekarno, perempuan kelahiran Tokyo, Jepang, pada 6 Februari 1940 itu bernama Naoko Nemoto. Ia berasal dari keluarga sederhana dan sempat menjadi mahasiswi seni.
Pertemuan pertama dengan Soekarno terjadi pada 1959, ketika Naoko baru berusia 19 tahun. Saat itu, Soekarno sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang.
Momen itu berlangsung di sebuah bar hostess di kawasan Ginza, Tokyo, dekat Imperial Hotel. Naoko dikenal sebagai mahasiswi seni, sedangkan Soekarno sudah menjabat sebagai Presiden Indonesia dan usianya jauh lebih tua.
Dari perkenalan singkat itu, hubungan mereka berkembang lebih serius. Tiga tahun setelah pertemuan tersebut, Naoko menikah dengan Soekarno di Indonesia pada 1962.
Setelah memeluk agama Islam, Soekarno memberi nama Indonesia kepada Naoko: Ratna Sari Dewi Soekarno. Nama itu berasal dari bahasa Jawa-Sanskerta dan dimaknai sebagai “inti permata seorang dewi”.
Pernikahan yang melahirkan Kartika Sari Dewi
Perjalanan rumah tangga Soekarno dan Ratna Sari Dewi kemudian dikaruniai seorang putri, Kartika Sari Dewi Soekarno, yang lahir pada 7 Maret 1967. Bagi keluarga ini, tanggal itu menjadi penanda penting di tengah dinamika politik dan kehidupan pribadi yang menyertai Soekarno.
Setelah Soekarno meninggal dunia pada 1970, Ratna Sari Dewi memilih untuk tidak menikah lagi. Keputusan itu menutup satu bab besar dalam hidupnya, tetapi tidak menghapus jejak hubungan mereka yang masih sering diingat publik hingga kini.
Kehadirannya di Istana Merdeka pada HUT ke-81 RI juga mengingatkan kembali betapa kuatnya hubungan personal dan sejarah politik dalam kisah Soekarno. Satu kunjungan, dan memori lama ikut terbuka lagi.
Di sela perayaan kemerdekaan, nama Soekarno kembali disebut bukan hanya sebagai proklamator dan presiden pertama, tetapi juga sebagai sosok yang pernah menjadi bagian dari hidup perempuan asal Tokyo itu. “Ada koleksi (foto) Bapak juga banyak sudah (hilang), ya. Sayang sekali,” kata Dewi, menyisakan nada haru di tengah suasana perayaan negara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.