Selasa, 18 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Trump Makin Nekat Menguasai Pemilu AS: Ancaman dan Konsekuensi

Palu hakim di atas tumpukan dokumen hukum dan surat suara pemilu
Kondisi sistem pemilu AS di bawah tekanan manuver politik jelang pemilu. (Ilustrasi: AI)

Ruang sidang di berbagai wilayah Amerika Serikat belakangan ini riuh oleh perdebatan panas soal aturan main pesta demokrasi. Donald Trump, melalui serangkaian manuver hukum dan tekanan administratif, terus mencoba menekan otoritas penyelenggara pemilu federal demi mengamankan cengkeraman politiknya. Namun, dinding pengadilan ternyata cukup kokoh untuk menahan langkah tersebut.

Setidaknya 20 kasus hukum terkait upaya pengambilan data pemilih milik pemerintah telah mentah di tangan hakim. Fakta mengejutkan, banyak dari hakim yang menolak gugatan tersebut justru adalah orang-orang yang dulu ditunjuk langsung oleh Trump. Salah satunya Hakim Cathy Bissoon di Pennsylvania.

Ia mengeluarkan pernyataan tegas bahwa setiap upaya pemerintah untuk merombak sistem pemilu secara sepihak telah gagal di hadapan meja hijau.

Tekanan Tanpa Henti

Meski berkali-kali ditolak hakim, Trump tidak kendur. Ia tetap ngotot menerapkan kebijakan identitas pemilih nasional yang ketat. Begitu pula dengan rencana pembatasan surat suara via pos. Banyak pakar hak sipil menjerit.

Mereka menilai kebijakan ini adalah ancaman nyata bagi hak pilih warga negara, terutama penyandang disabilitas dan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dengan akses terbatas.

Posisi Trump sendiri memang terjepit. Bayang-bayang kekalahan Partai Republik di Kongres pada pemilu sela mendatang bukan sekadar isu belaka. Bagi kubu Trump, kekalahan di Kongres adalah bencana. Itu bisa memicu rentetan penyelidikan panjang, bahkan membuka pintu lebar bagi langkah pemakzulan. Situasi ini membuatnya bersikap semakin nekat.

Di beberapa kesempatan, ia bahkan sempat melempar wacana berbahaya: menyatakan darurat keamanan nasional. Tujuannya jelas, memaksakan kebijakan pemilu lewat dekrit tanpa perlu persetujuan Kongres.

Wacana penggunaan aparat keamanan untuk menyita mesin pemungutan suara atau material pemilu juga kembali mengemuka ke publik. Trump secara terang-terangan sempat menyesal karena tidak mengeksekusi rencana penyitaan material pemilu pasca-2020 lalu.

Mendengar itu, anggota parlemen dari Partai Demokrat di Komite Keamanan Dalam Negeri Senat langsung bereaksi keras. Mereka melabeli langkah tersebut sebagai tindakan ilegal sekaligus inkonstitusional. Bagi mereka, narasi yang dibangun Trump hanyalah cermin ketakutan mendalam terhadap hasil pemilu yang tidak berpihak padanya.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda