Setelah itu, istilah ini keluar dari lingkaran editing. Streamer dan influencer yang menjual merchandise 100 persen polyester ikut kena sindiran. LowTierGod bahkan mendapat julukan “the Polyester Prince”. Kreator lain menertawakan sosok pengguna polyester dengan outfit nyaring penuh motif, seperti celana galaxy dan wolf shirt. Arah ejekannya jelas: tampil terlalu keras, tapi tetap terasa palsu.
Singkat. Pedas.
So what: kenapa istilah ini relevan buat pembaca
Istilah polyester menunjukkan bagaimana internet kini tidak cuma menilai isi, tapi juga rasa dari sebuah konten atau persona. Di era AI-generated posts, deepfake, produk dropship, dan gaya hidup yang seolah dirancang algoritma, kata ini menemukan panggungnya sendiri. Ia dipakai untuk menandai sesuatu yang terasa diproduksi, bukan tumbuh alami.
Buat pembaca, ini berguna untuk membaca ulang cara bahasa berkembang di media sosial. Satu kata bisa pindah fungsi dengan cepat: dari bahan pakaian, jadi sindiran gaya hidup; dari fashion, masuk ke kritik konten; dari TikTok, merembet ke percakapan tentang keaslian.
Itulah yang membuat bahasa Gen Z sering terasa tajam. Mereka tidak sekadar bilang “jelek” atau “palsu”. Mereka memilih kata yang membawa citra, sejarah, dan rasa yang lebih rumit.
Polyester juga masuk ke barisan istilah lain yang menilai sesuatu sebagai palsu atau generik.
Ada “larping” untuk orang yang mengadopsi identitas demi perhatian, “performative” untuk sikap yang terlalu ingin terlihat, “industry plant” untuk sukses yang terasa dibuat-buat, dan “NPC” untuk orang yang dianggap tidak punya orisinalitas.
Lalu ada “slop” untuk konten berkualitas rendah yang diproduksi massal, terutama oleh AI, serta “Temu version” untuk tiruan murah dari sesuatu yang lebih terkenal.
Di antara semua itu, polyester punya posisi unik. Ia bukan cuma soal kualitas. Ada penilaian moral kecil di sana. Sesuatu bisa saja asli, tapi tetap terasa polyester bila tampak norak, sekali pakai, atau disusun dari tren yang sedang laku. Maknanya mendekat ke slop, tapi dengan label komposisi bahan. Atau seperti Temu, tanpa perlu menyebut tokonya.
Karena itu, kata ini cocok sekali untuk internet yang makin penuh konten hasil rakitan, citra yang terlalu licin, dan persona yang terasa dijahit cepat. Namun ada ironi yang tak bisa dihindari: makin sering polyester dipakai untuk mencela semua yang tidak disukai, makin murah pula kata itu sendiri. Ia bisa ikut jadi generik. Ikut terasa pabrik.
Olivia Tauber, yang menulis analisis ini dalam The New York Times, menutup profilnya dengan latar sebagai deputy editor of digital culture. Dari sana terlihat kenapa istilah seperti polyester bisa cepat menempel ke percakapan online: kata ini lahir dari budaya digital yang makin piawai membedakan mana yang terasa hidup, dan mana yang cuma tampak hidup.
“From there, ‘polyester’ became less about what something was made from and more about its overall spiritual composition,” tulis bahan sumber. Kalimat itu pas sekali menangkap arah baru slang ini. Bukan kainnya yang jadi pusat. Melainkan rasa palsunya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.