Jumat, 21 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Minuman manis harian terkait risiko kanker lambung lebih tinggi

Minuman manis dan risiko kanker lambung dalam studi baru
Studi baru menyorot minuman manis harian dan kaitannya dengan risiko kanker lambung. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — minuman manis harian dikaitkan dengan risiko kanker lambung yang lebih tinggi dalam studi baru dari Mass General Brigham Cancer Institute.

Para peneliti yang menelaah data 112,000 orang dewasa sehat di Amerika Serikat menemukan bahwa setidaknya satu sajian minuman dengan high fructose corn syrup per hari, termasuk soda, minuman energi, dan jus buah, terkait dengan risiko yang lebih dari dua kali lipat dibanding mereka yang minum kurang dari satu sajian per bulan.

Temuan itu dilaporkan Fox News Digital pada Rabu, dan menjadi sorotan karena penelitian soal minuman berpemanis dan kanker lambung memang masih terbatas. Di saat yang sama, American Cancer Society memperkirakan ada 31,000 kasus baru kanker lambung dan 10,000 kematian akibat penyakit ini pada tahun ini.

Minuman manis dan kanker lambung dalam angka

Peneliti belum memastikan sebab-akibat. Yang mereka temukan baru hubungan atau asosiasi. Tapi angkanya cukup tajam untuk memantik perhatian. Dalam studi itu, kelompok yang paling sering mengonsumsi minuman dengan high fructose corn syrup terlihat punya risiko lebih tinggi ketimbang kelompok yang sangat jarang mengonsumsinya.

Temuan Angka dari bahan sumber
Jumlah partisipan studi 112,000 orang dewasa AS
Sajian minuman harian yang dikaitkan dengan risiko lebih tinggi Setidaknya satu sajian per hari
Pembanding rendah konsumsi Kurang dari satu sajian per bulan
Kasus baru kanker lambung di AS tahun ini 31,000
Kematian yang diperkirakan tahun ini 10,000
Porsi kanker lambung dalam kasus kanker baru tahunan di AS 1.5 persen

Dr. Andrew Chan, gastroenterolog dan epidemiolog di institut itu, mengatakan kepada Fox News Digital bahwa kanker lambung masih belum banyak dipahami dari sisi diet. “Gastric cancer is the fifth-leading cause of cancer death worldwide, but we’ve known very little about how diet might contribute to this cancer,” ujarnya.

Kenapa high fructose corn syrup dicurigai

Dalam bahan sumber, para peneliti menduga high fructose corn syrup menjadi faktor utama. Pemanis ini dibuat dari pati jagung dan juga dipakai di banyak makanan olahan dan kemasan, termasuk produk panggang, bumbu, dan sereal.

Menurut Cleveland Clinic, konsumsi high fructose corn syrup bisa meningkatkan produksi lemak dan kadar peradangan yang merugikan, dua hal yang sama-sama berkaitan dengan risiko kanker.

Studi itu juga mencatat bahwa pemanis buatan yang sering dipakai pada soda diet tidak menunjukkan risiko yang sama seperti fruktosa. Ini memberi gambaran bahwa jenis pemanis mungkin berpengaruh, bukan hanya rasa manisnya saja.

Para peneliti juga mencoba menyingkirkan penyebab utama kanker lambung yang paling sering diketahui, yakni infeksi bakteri Helicobacter pylori. Infeksi pada lapisan lambung ini menyumbang sebagian besar kasus di seluruh dunia.

Dalam subkelompok hampir 1,000 peserta, tim riset menemukan sebagian orang memang memiliki bakteri itu, namun mereka tidak menemukan hubungan antara konsumsi minuman tersebut dan infeksi.

Artinya, penelitian ini sengaja menahan diri di titik yang hati-hati. Hubungan ada. Dugaan mekanismenya ada. Tetapi pembuktian bahwa minuman manis benar-benar menyebabkan kanker lambung belum selesai.

Dampaknya buat pola makan sehari-hari

Bagian yang paling dekat dengan pembaca justru ada di sini. Minuman manis bukan satu-satunya faktor yang disorot dalam bahan sumber, tetapi studi ini menambah alasan untuk memeriksa ulang kebiasaan yang terasa sepele.

Soda, minuman energi, dan jus buah kemasan sering hadir sebagai teman makan siang, pelepas haus, atau pengganti air putih. Kalau dikonsumsi tiap hari, akumulasi risikonya bisa jadi bahan pertimbangan baru, apalagi saat penelitian menunjukkan kaitan dengan kanker lambung.

American Cancer Society juga menyinggung faktor lain yang berkaitan dengan risiko kanker lambung, termasuk makanan yang diawetkan dalam larutan garam, daging olahan, daging yang dipanggang atau dibakar, serta kurang makan buah. Jadi, isu ini tidak berdiri sendiri. Kebiasaan minum dan makan berjalan beriringan.

Di Amerika Serikat, kanker lambung memang tergolong lebih jarang, hanya 1.5 persen dari kasus kanker baru tahunan. Tapi angka itu tidak membuat temuan ini kecil. Justru karena penyakitnya relatif jarang, setiap petunjuk soal pencegahan punya bobot tersendiri.

Chan menegaskan kepada Fox News Digital bahwa penelitian ini belum bisa membuktikan sebab-akibat. “What we did see was an association. We certainly need to do more research to understand whether this association between sugary-sweetened beverages and stomach cancer is truly causal,” katanya.

Di titik ini, arah riset berikutnya jadi penting. Para peneliti perlu melihat apakah hubungan itu konsisten di kelompok lain, bagaimana peran bahan pemanisnya, dan faktor gaya hidup apa yang ikut menumpuk di belakangnya. Untuk sekarang, satu pesan sudah cukup jelas: kebiasaan minum manis tiap hari bukan lagi perkara kecil yang bisa diabaikan begitu saja.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 21 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir