EDINBURGH — koalisi Reform UK kembali ditutup rapat oleh Kemi Badenoch. Pemimpin Partai Konservatif itu bukan hanya menolak kerja sama dengan partai Nigel Farage, tetapi juga menyebut para pembelot yang hengkang ke Reform sebagai orang-orang yang tidak akan disambut pulang.
Di Edinburgh festival fringe, Badenoch mengatakan partainya tak akan membuat kesepakatan pemilu dengan Reform UK. Ia juga mengirim pesan keras kepada para politisi yang pindah kubu dengan menyebut mereka “some of the most dishonest people I have ever met in my entire life”.
Pidato yang menutup pintu dari dua arah
Pernyataan Badenoch datang saat peta politik kanan Inggris masih cair. Di bahan sumber, beberapa anggota parlemen aktif maupun mantan anggota parlemen tercatat sudah bergabung ke Reform dari Konservatif, termasuk mantan menteri dalam negeri Suella Braverman dan mantan shadow justice secretary Robert Jenrick.
Nama Jenrick ikut jadi sasaran. Setelah Badenoch memecatnya karena dituding merencanakan sesuatu terhadap dirinya, Jenrick menyebut partai lamanya “rotten” dan “failed”. Badenoch lalu mengkritik mereka yang pergi saat partai berada di titik terendah, lalu ingin kembali saat keadaan berubah.
“These are people who left us when we were at our lowest, many of them the people who caused the problems in the first place and then ran away and pretended they had nothing to do with it. Why should we have them back?” kata Badenoch. Kalimat itu menegaskan garis partai yang ia tarik: tidak ada ruang untuk para pembelot, apalagi untuk kompromi elektoral dengan Reform.
Pesan ke internal Partai Konservatif
Badenoch juga menolak istilah “drama queens” di partainya. Ia mengatakan tidak sedang “entertaining” para parlementarian yang ia dengar tengah mendekati kembali setelah sebelumnya pergi. Buat basis Konservatif, pesan ini penting karena memperlihatkan upaya Badenoch membangun disiplin internal, bukan sekadar merespons manuver Reform di luar pagar partai.
Di titik ini, taruhannya jelas. Jika Konservatif terus kehilangan figur ke Reform, lalu masih membuka pintu untuk koalisi atau kesepakatan, partai bisa tampak rapuh di hadapan pemilih yang menuntut garis politik tegas. Badenoch memilih kebalikannya: menutup peluang sejak awal, walau risikonya mempersempit opsi jika hasil pemilu nanti tidak menghasilkan mayoritas jelas di Westminster.
Ia bahkan berkata akan lebih memilih pemilu ulang ketimbang memimpin pemerintahan “monstrous Reform-Conservative hybrid” jika parlemen gantung terjadi. Badenoch juga menolak skenario koalisi Labour-Liberal Democrat sebagai jalan keluar, dan menegaskan tidak akan ada deal sebelum maupun sesudah pemilu.
Polling terbaru masih belum menguntungkan Konservatif
Tekanan itu datang di saat yang belum nyaman bagi partainya. Menurut jajak pendapat Ipsos terbaru, 28% dari 1.033 orang dewasa di Britania yang disurvei antara 30 Juli dan 4 Agustus menyatakan mendukung Labour. Reform UK berada di posisi kedua dengan 25%, sementara Konservatif tertinggal di urutan ketiga dengan 18%.
Angka itu menjelaskan kenapa pernyataan Badenoch terasa lebih dari sekadar sindiran. Dengan Reform menguat di Wales dan berbagai wilayah Inggris sepanjang tahun lalu, setiap sinyal soal koalisi atau perpindahan kader ikut memengaruhi persepsi pemilih: apakah Konservatif masih punya identitas sendiri, atau justru terseret oleh partai yang dulu ditinggalkan para pembelot.
Badenoch sendiri menegaskan ingin menang “on my own terms” pada pemilu berikutnya. Ia juga berkata ingin menyatukan negara, bukan menyatukan sayap kanan. Untuk sementara, jalan yang ia pilih jelas: tidak ada koalisi Reform UK, tidak ada kesepakatan, dan tidak ada kursi kembali bagi mereka yang sudah pergi.
“There would be ‘no deals’ made before or after the election,” katanya, sambil menutup ruang tawar-menawar yang sejak lama jadi bahan spekulasi di politik Inggris.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.