“Saya pengalaman dengan gerak sejarah. Ini ada anomali di masyarakat sekarang. Ada demo Pati, Madura ikut demo tandingan. Ah, ini sudah kayak Pam Swakarsa ’98 nih. Pasti kalah yang preman,” tuturnya dengan nada meyakinkan.
Menanti Patahan Sejarah
Analisis Budi Arie tidak berhenti pada perbandingan sejarah. Ia menyebut adanya variabel-variabel baru yang membuat kalkulasi politik menjadi jauh lebih kompleks. Ia menyebut fenomena ini sebagai “patahan sejarah”. Menurut dia, ada anomali yang bekerja di bawah permukaan masyarakat yang tidak bisa dipotret hanya melalui survei elektabilitas biasa.
Pria yang juga menjabat sebagai menteri ini menegaskan, langkah-langkah yang harus disiapkan oleh relawan tidak boleh hanya terpaku pada tahapan-tahapan normatif. Ia ingin Projo lebih fleksibel, responsif, dan siap menghadapi kejutan apapun yang mungkin terjadi di luar ekspektasi publik.
Pernyataan Budi ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat politik mengenai apa sebenarnya yang dia tangkap dari lapangan.
Apakah ada sinyalemen stabilitas politik yang sedang terganggu, atau sekadar strategi untuk tetap menjaga militansi relawan agar tidak kehilangan momentum pasca-lengsernya Jokowi nanti? Belum ada jawaban pasti.
Yang jelas, Budi Arie baru saja membuat panggung politik nasional yang tadinya tenang, mendadak terasa sedikit lebih sesak dan penuh tanda tanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.