Kantor collector juga diminta memeriksa kelayakan, biaya, dan jadwal pembangunan jembatan. Artinya, keputusan sementara berupa kelas alternatif hanya menjadi penahan masalah, bukan jawaban akhir.
Warga menyambut langkah darurat itu, tetapi mereka menilai jembatan permanen adalah penyelesaian yang sesungguhnya. Seorang warga Nadrauli mengatakan kepada TOI bahwa setiap musim hujan masalah yang sama selalu datang lagi, membuat anak-anak kehilangan sekolah dan guru mempertaruhkan nyawa.
Dampaknya langsung terasa ke sekolah dan keluarga
Untuk keluarga di Nadrauli dan Sumer Singh Ka Pura, keputusan membuka kelas alternatif berarti pelajaran bisa kembali berjalan tanpa menunggu air surut. Ini penting karena, di banyak daerah rawan banjir, satu hari sekolah yang hilang sering menjalar jadi ketertinggalan panjang, terutama saat akses fisik benar-benar terputus.
Para orang tua di Sumer Singh Ka Pura mengatakan banyak siswa tertinggal pelajaran pada musim hujan sebelumnya karena tak bisa menyeberangi sungai. Mereka berharap jembatan yang diusulkan dapat memutus siklus isolasi yang selama ini mengubah perjalanan rutin ke sekolah menjadi penyeberangan sungai yang berbahaya.
“Every monsoon brings the same problem. Children miss school and teachers risk their lives,” kata seorang warga Nadrauli kepada TOI. Kalimat itu merangkum inti masalah dengan terang: yang dibutuhkan bukan sekadar tempat belajar sementara, tetapi akses yang aman dan permanen.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.