TANGERANG — ruang laktasi di instansi pemerintah dan sektor swasta didorong Dinas Kesehatan Kota Tangerang agar pemenuhan ASI eksklusif hingga anak berusia dua tahun bisa tercapai. Dorongan itu disampaikan dalam upaya memperkuat lingkungan kerja yang ramah ibu dan bayi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Sari Nur Arofah mengatakan, capaian cakupan ASI eksklusif di Kota Tangerang sudah berada di atas rata-rata nasional, yakni 62 persen. Angka itu menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk terus menggerakkan sinergi lintas sektor.
Ruang laktasi dan target ASI eksklusif di Kota Tangerang
Menurut Sari, Pemkot Tangerang berkomitmen mendorong pemenuhan hak ibu dan anak lewat kolaborasi yang tidak berhenti di level kebijakan. Ia menekankan bahwa dukungan di tempat kerja ikut menentukan keberhasilan ibu dalam menyusui anaknya.
Karena itu, ruang laktasi tidak dipandang sekadar fasilitas tambahan. Fasilitas ini menjadi bagian dari lingkungan kerja yang memungkinkan ibu tetap menyusui atau memerah ASI tanpa harus kehilangan kenyamanan dan waktu yang dibutuhkan untuk perawatan anak.
“Harapan kami, seminar ini menjadi pemicu bagi seluruh instansi dan dunia usaha di Kota Tangerang untuk menciptakan lingkungan kerja yang ramah ibu dan bayi demi tercapainya target ASI eksklusif,” katanya.
Kalimat itu memberi arah yang jelas. Pemerintah kota ingin dorongan kebijakan berhenti sebagai imbauan di atas kertas, lalu benar-benar hadir dalam fasilitas yang dipakai sehari-hari oleh pekerja perempuan.
Kenapa ruang laktasi jadi urusan penting
Program Manager Maternal and Newborn Health Yayasan Project HOPE Indonesia, Tutut Sri Purwanti, menjelaskan bahwa keberhasilan menyusui membutuhkan support system yang kuat, terutama dari lingkungan kerja. Dalam konteks itu, ruang laktasi menjadi salah satu elemen yang paling mudah dikenali manfaatnya oleh pekerja maupun pengelola kantor.
Pesan yang sama datang dari Sekretaris Jenderal AIMI, Lianita Prawindarti. Ia menekankan pentingnya efektivitas fasilitas laktasi di tempat kerja, bukan sekadar ada untuk menggugurkan kewajiban.
Masalahnya memang sering berhenti di formalitas. Ruang ada, tetapi tidak nyaman dipakai. Ada fasilitas, namun tidak mendukung kebutuhan ibu menyusui secara nyata. Di titik ini, kualitas ruang laktasi menentukan apakah dukungan itu betul-betul membantu atau hanya tampak rapi di laporan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.