NEW DELHI — Kriti Sanon jadi pusat perdebatan setelah penampilannya dalam iklan perhiasan bertema Raksha Bandhan menuai kritik. Rahul Gandhi ikut bersuara dan membela sang aktor, menegaskan bahwa pilihan pakaian perempuan adalah urusan pribadi.
Dalam unggahan Instagram pada Selasa, pemimpin oposisi di Lok Sabha itu menulis, “What a woman wears, what she does and where she goes – is her choice.” Ia juga menambahkan, “Stop trolling women for exercising their freedom.”
Kriti Sanon menolak ukuran budaya dari pakaian
Respons Rahul muncul setelah Kriti menanggapi kritik atas kampanye yang dirilis menjelang Raksha Bandhan. Iklan itu menampilkan Sanon dalam busana Indo-Western, berupa blus bergaya bralette, cape, dan rok draped saat sedang mengikat rakhi.
Kampanye tersebut sebelumnya juga dipersoalkan oleh aktor sekaligus politisi Kangana Ranaut, yang mempertanyakan pilihan busana Kriti dalam iklan itu. Kritik terhadap iklan itu lalu menyebar di media sosial, dengan sejumlah pengguna mempertanyakan apakah busana Sanon pantas untuk kampanye yang berpusat pada Raksha Bandhan.
Dalam unggahan Instagram, Kriti menyebut soal yang lebih penting dalam perayaan bukanlah pakaian, melainkan perasaan dan makna tradisi yang dijalankan. Ia menulis, “The essence of festivals is not in the clothes you wear, it is in the emotions and meaning you hold for the traditions.”
Sanon juga menyinggung hubungan dengan saudarinya. “Rakshabandhan is a bond of protection. My sister and I tie rakhi to each other. We know we can protect each other no less than a brother would have,” katanya. Ia menambahkan bahwa keduanya saling mendoakan “health, happiness & long life”, dan doa yang sama juga mereka sampaikan untuk anjing-anjing mereka karena “they are family!”
Pertanyaan soal busana perempuan kembali menyeruak
Di titik ini, perdebatan meluas ke isu yang lebih besar: mengapa pakaian perempuan masih kerap dijadikan ukuran penghormatan terhadap budaya. Kriti mengajukan pertanyaan itu secara terang-terangan. “Also, when will we stop telling women what to wear??” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa fesyen etnik berubah dari waktu ke waktu, tetapi penghormatan seorang perempuan terhadap budayanya tidak layak diukur dari pakaian semata. “Culture & Traditions are in her heart, not in her neckline!” kata Sanon.
Langkah Rahul membela Kriti memberi bobot politik pada perdebatan yang awalnya bermula dari iklan komersial. Bagi publik, respons itu menunjukkan bagaimana sebuah kampanye merek bisa berubah menjadi diskusi lebih luas soal kebebasan berekspresi, batas penilaian terhadap perempuan, dan cara tradisi dipahami di ruang digital.
Di sisi lain, kritik Kangana juga memperlihatkan betapa iklan bertema festival bisa cepat dibaca sebagai persoalan nilai, bukan sekadar urusan gaya. Dalam unggahan Instagram Story, Kangana menulis bahwa perempuan zaman sekarang punya banyak pilihan busana, lalu mempertanyakan mengapa rakhi diikat sambil mengenakan “bikini/undergarments” dan menyebut iklan itu “intentionally creepy!”.
Perdebatan semacam ini jarang berhenti di satu unggahan. Apalagi ketika menyangkut Raksha Bandhan, busana, dan simbol budaya yang sangat mudah memicu tafsir berbeda. Untuk merek, sorotan seperti ini bisa mengangkat perhatian publik, tapi juga berisiko menggeser fokus dari produk ke kontroversi yang menyertainya.
Di media sosial, reaksi keras memang sudah muncul lebih dulu. Sejumlah pengguna X mempertanyakan keberadaan puja ki thali, tilak, dan busana yang dipakai Kriti dalam kampanye tersebut. Satu akun menulis, “Where is Puja Ki thali? Why are you wearing bra in front of your brother? Is this a Raksha Bandhan? Where is Tilak?”
Akun lain menulis, “No woman dresses like this on Raksha Bandhan. Shame on you @kritisanon.” Namun di tengah gelombang komentar itu, pembelaan Rahul menggeser fokus ke soal yang lebih mendasar: hak perempuan menentukan pilihan sendiri, termasuk dalam urusan pakaian.
“What a woman wears, what she does and where she goes – is her choice,” tulis Rahul Gandhi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.