Rabu, 26 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Ryan Coleman-Williams Hadapi Musim Kedua yang Sulit di Alabama

Ryan Coleman-Williams Hadapi Musim Kedua yang Sulit di Alabama
Ryan Coleman-Williams Hadapi Musim Kedua yang Sulit di Alabama

Ia tahu, sesuatu berubah. Sebagai mahasiswa psikologi, ia mencoba membaca dirinya sendiri dengan jujur. Awal musim yang tak sesuai harapan memicu krisis percaya diri. Dari sana, satu masalah menyeret masalah lain. Drop datang. Lalu ia terlalu memikirkan drop itu. Lalu drop berikutnya muncul.

Kalen DeBoer pun melihat hal yang sama dari pinggir lapangan. Pelatih Alabama itu menilai Coleman-Williams hanya perlu kembali ke dasar-dasar permainan. Bukan karena ia lupa cara menangkap bola, melainkan karena ia terlalu berusaha melakukan terlalu banyak hal setelah bola masuk ke tangannya.

"I think that’s growth for any person — having to figure out, ‘Oh no, I didn’t forget how to catch a football. I still have really good hands,’" kata DeBoer seperti dikutip ESPN.

"Just getting back to the fundamentals of making sure you’re locking it in and not getting ahead of yourself," tambahnya.

Kalimat itu terasa sederhana. Tapi tepat.

Soal yang paling besar: siapa Ryan yang muncul musim ini?

Musim ini, Coleman-Williams datang dengan usia yang masih sangat muda untuk ukuran sepak bola kampus, tapi pengalaman hidupnya sudah berubah jauh. Ia disebut masuk musim junior pada usia 19 tahun. Dalam periode yang sama, ia juga menikah dan memiliki bayi.

Ia mengubah nama, nomor jersey, kebiasaan latihan, dan pola pikirnya. Ia mengaku merasa lebih tenang, lebih kuat secara fisik, dan lebih cepat dari sebelumnya.

Di titik inilah cerita Coleman-Williams jadi penting bukan cuma untuk Alabama, tapi juga untuk pembaca yang mengikuti sepak bola kampus. Performa seorang pemain muda sering dilihat dari angka-angka kasar.

Padahal, tekanan, cedera, dan kepercayaan diri bisa mengubah jalannya satu musim dengan sangat cepat. Saat target turun dari 25% ke 15%, pengaruhnya tak berhenti di satu pemain saja. Quarterback kehilangan opsi. Skema serangan ikut menyesuaikan. Dan ritme tim berubah.

Ibunya, Tiffany Coleman, mengatakan putranya masih seperti anak kecil ketika semua sorotan itu datang terlalu cepat. Ia juga mengisyaratkan adanya tekanan keluarga yang ikut menempel, bukan hanya tekanan dari publik atau ekspektasi pribadi.

Dari sana terlihat bahwa masalah Coleman-Williams bukan cuma soal teknik menerima bola. Ini juga soal beban mental yang menempel pada pemain muda yang tiba-tiba jadi pusat perhatian.

Di lengan dan dadanya, Coleman-Williams punya banyak tato. Satu yang paling sering ia renungkan adalah gambar pohon gundul di tulang rusuknya, dengan akar yang dalam dan cabang tanpa daun. Baginya, itu pengingat untuk tinggal di momen yang sedang dijalani, bukan di bayangan pujian atau kritik.

Musim baru Alabama akan membuka jawaban itu segera. East Carolina jadi panggung pertama. Dan setelah musim yang membuatnya turun ke titik paling sulit dalam karier kampusnya, Coleman-Williams kini harus menunjukkan apakah perubahan besar dalam hidupnya benar-benar cukup untuk mengembalikan pemain yang dulu membuat semuanya terlihat mudah.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda