JAKARTA — Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah segera mempertimbangkan meliburkan sekolah di Kalimantan jika kualitas udara sudah membahayakan kesehatan anak akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Keputusan itu, kata Lalu, harus berbasis data konkret dan bukan sekadar reaksi cepat.
“Jika kualitas udara sudah tidak sehat bagi anak-anak, pemerintah perlu mempertimbangkan libur sekolah sementara,” ujar Lalu Hadrian Irfani, legislator PKB, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21 Agustus 2026).
Permintaan itu lahir dari meningkatnya dampak karhutla di Kalimantan yang telah memburuk kualitas udara di berbagai wilayah.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026 mencatat total 1.487 titik panas di seluruh Kalimantan, dengan Kalimantan Tengah menjadi episentrum dengan 767 titik panas.
Konsentrasi asap sudah mencapai level berbahaya—indeks kualitas udara (AQI) di Palangka Raya mencapai 487 kategori sangat tidak sehat pada tanggal tersebut.
Libur Sekolah Bukan Henti Pendidikan
Menurut Lalu, peliburan sekolah tidak berarti menghentikan proses belajar-mengajar. Pembelajaran tetap bisa dilanjutkan melalui daring atau penugasan dari rumah, sehingga peserta didik tetap mendapat materi tanpa terpapar asap pekat. Ini adalah cara melindungi anak sambil menjaga kontinuitas pendidikan.
Namun keputusan meliburkan sekolah harus berdasarkan kondisi lapangan sesungguhnya, bukan dilakukan serampangan. Pemerintah perlu mengacu pada data kualitas udara, tingkat paparan asap, serta rekomendasi dari instansi kesehatan dan kebencanaan setempat agar kebijakan tepat sasaran dan tidak mengganggu daerah yang belum terkena dampak.
“Keputusan meliburkan sekolah harus berbasis data kualitas udara dan tingkat paparan asap agar tepat sasaran,” tegasnya.
Dampak Sudah Terasa di Lapangan
Dampak karhutla sudah memaksa sejumlah tindakan darurat di daerah yang terdampak. Di beberapa wilayah Kalimantan, Dinas Pendidikan sudah menunda jam masuk sekolah SD dan SMP hingga pukul 08.00 WIB, sementara PAUD dialihkan ke pembelajaran jarak jauh. Jarak pandang di beberapa wilayah turun drastis hingga 1,4 kilometer akibat kabut asap yang pekat.
Persoalannya lebih dari sekadar menghitamnya langit. Asap karhutla mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan, terutama anak-anak yang sistem imun masih berkembang. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, infeksi, dan dampak kesehatan lainnya. Inilah mengapa prioritas Komisi X adalah melindungi anak dari risiko kesehatan yang terbukti.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.