JAKARTA — Sepeda Rp60 pernah mengantar Pradyumna Kumar Mahanandia, atau PK, menempuh perjalanan hampir 6.000 mil selama 133 hari demi menyusul wanita yang dicintainya ke Swedia. Kisah itu berawal di Delhi pada 1975, ketika ia bertemu Lotta, perempuan asal Swedia yang sedang bepergian di India.
Ketika Lotta kembali ke negaranya, PK tidak punya uang untuk tiket pesawat. Maka pada Januari 1977, ia membeli sepeda bekas merek Raleigh seharga 60 rupee, menyiapkan kantong tidur, tenda kecil, dan perlengkapan melukis, lalu berangkat melintasi beberapa negara. Cerita perjalanan ini baru-baru ini dilaporkan The Telegraph dan kini menjadi dasar dokumenter The Cycle of Love.
Awal kisah cinta dari sebuah potret
PK saat itu berusia 26 tahun dan masih menempuh studi seni rupa di Delhi. Ia berasal dari Kandhapada, Odisha, dan mulai mencari nafkah dengan menggambar potret di dekat air mancur di pusat kota. Dari aktivitas itulah Lotta datang dan meminta potretnya dibuat.
Namun yang membuat PK yakin bukan hanya pertemuan singkat itu. Dalam bahan yang dilaporkan The Telegraph, keluarganya sejak lama memegang keyakinan soal takdir. Seorang peramal pernah mengatakan kepada ayah PK bahwa calon istrinya akan datang dari negeri yang jauh, menyukai musik, lahir di bawah tanda Taurus, dan “own a jungle”.
PK lalu menanyakan tanggal lahir Lotta. Ia lahir pada Mei dan berzodiak Taurus. PK juga menanyakan apakah Lotta musikal. Jawabannya, ya. Lotta menyanyi dan bermain piano. Pertanyaan terakhir membuatnya semakin percaya: apakah Lotta memiliki hutan?
Lotta menjelaskan bahwa kakeknya, seorang bangsawan Swedia, memiliki lahan dan hutan dekat Gothenburg. Setelah itu, PK mengatakan Lotta akan menjadi istrinya.
Lotta pun punya pengalaman yang terasa seperti pertanda. Menurut laporan The Telegraph, saat bekerja sebagai perawat di London, ia pernah menerima kalender bergambar roda batu besar dari Kuil Matahari Konark di Odisha. Ia menyukai gambar itu dan menyimpannya di dinding rumahnya.
Terpisah negara, tetap saling menulis
PK dan Lotta kemudian menikah di India. Keluarga PK menerima Lotta saat pasangan itu pergi ke desa mereka di Odisha, dan ayah PK melakukan upacara pernikahan untuk mereka. Setelah itu, Lotta harus kembali ke Swedia untuk melanjutkan studinya.
Jarak memisahkan mereka, tapi surat-menyurat tetap berjalan. PK menyelesaikan kuliah seninya dan makin ingin menyusul. Ia sempat menanyakan tiket pesawat ke Swedia, lalu mendapat jawaban bahwa biayanya sekitar 40.000 rupee, sekitar 18 kali pendapatan tahunan rata-rata di India saat itu menurut The Telegraph. Angka itu membuatnya menempuh jalan lain.
Jalan lain itu jauh lebih panjang. Ia membeli sepeda bekas seharga 60 rupee dan berangkat dari India pada Januari 1977. “I knew the sun rises in the east and sets in the west,” kata PK dalam dokumenter. Awalnya ia mengira tujuannya Swiss.
Seorang pelancong asal Belgia kemudian menunjukkan peta Eropa dan meluruskan bahwa Borås, kota tempat Lotta tinggal, ada di Swedia. Salah arah sedikit saja. Tapi perjalanan sudah terlanjur dimulai.
Di perbatasan India-Pakistan, PK mendapati dirinya tak memperoleh izin melintas melalui Pakistan. Di Amritsar, ia bertemu seseorang yang mengenalnya dari Delhi dan tersentuh oleh ceritanya. Orang itu membelikannya tiket pesawat ke Kabul, Afghanistan. Itu penerbangan pertama PK. Sepedanya dibawa ke Kabul oleh pasangan Jerman yang ia temui.
Perjalanan yang bergantung pada orang asing
Dari Kabul, PK kembali melanjutkan perjalanan dengan sepeda. Sepanjang jalan, ia berkali-kali bergantung pada kebaikan orang asing. Ada yang memberinya makanan dan tempat bermalam. Ada pula yang membayar jasanya menggambar potret. Kemampuannya melukis kembali menyelamatkannya, sama seperti saat ia masih berkeliling di Delhi.
Satu peristiwa di jalannya meninggalkan kesan kuat. Saat mengayuh sepeda keluar dari Kabul, PK menemukan mobil yang mengalami kecelakaan. Di dekat mobil itu, seorang perempuan muda asing terbaring terluka parah dan berlumuran darah. Ia telah kehilangan semua giginya. PK menghentikan langkah, menolongnya naik ke truk, lalu membawa sepedanya ke bak belakang kendaraan itu.
PK kemudian mengantar perempuan itu ke rumah sakit di Kabul dan menemaninya sampai ia keluar. Karena tak bisa berbicara, perempuan itu menuliskan namanya di selembar kertas: Leanna. Ia berasal dari Austria dan bekerja di sebuah galeri di Wina. PK membawanya ke kedutaan, dan pejabat di sana mengatur penerbangan untuknya.
Kisah PK kini tidak berhenti sebagai anekdot perjalanan cinta yang nyaris tak masuk akal. Dengan hadirnya dokumenter The Cycle of Love, cerita itu bergerak ke ruang yang lebih luas: tentang bagaimana keputusan spontan, uang yang tak cukup, dan keyakinan pada tujuan bisa mengubah hidup seseorang. Dan semuanya bermula dari sepeda bekas seharga 60 rupee.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.