Kaderisasi di dalam organisasi bawah tanah ini berjalan sangat ketat, sehingga hilangnya satu orang biasanya tidak langsung membubarkan kekuatan teritorial yang mereka pegang.
Pemerintah Kolombia sendiri berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, ada jalur negosiasi yang terbuka untuk sebagian fraksi pemberontak yang mau melunak. Tapi, kelompok Mordisco tetap memosisikan diri sebagai musuh bebuyutan yang menutup pintu dialog. Operasi militer langsung, seperti yang menewaskan Felipe, menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami.
Situasi di lapangan masih sangat tegang. Para komandan militer kini bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan atau pergeseran taktik dari sisa anggota faksi pimpinan Mordisco. Keamanan di wilayah barat daya dipastikan bakal diperketat dalam beberapa hari ke depan, mengingat hilangnya seorang pemimpin senior biasanya memicu instabilitas internal di dalam faksi pemberontak tersebut.
Pertaruhan pemerintah kini terletak pada sejauh mana mereka bisa memanfaatkan momentum ini untuk menekan sisa-sisa anggota lainnya. Jika operasi kali ini benar-benar mampu mengganggu rantai pasok logistik dan pendanaan narkotika kelompok tersebut, maka ini akan jadi kemenangan besar bagi Espriella.
Namun, selama hutan-hutan di perbatasan masih menjadi tempat persembunyian yang aman, ancaman dari kelompok disiden FARC ini kemungkinan besar masih akan membayangi warga Kolombia untuk waktu yang lama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.