Dunia kembali menahan napas. Pada 8 September 2026, El Niño masih aktif, dan dampaknya mulai terasa dari Pasifik hingga Indonesia, dengan risiko cuaca ekstrem yang mengancam ketersediaan air, panen, dan keselamatan warga.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut dunia kini berada di “zona bahaya cuaca ekstrem” saat El Niño membesar di depan mata. Data terbaru Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO menunjukkan fenomena alami ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam lebih dari 70 tahun, dan pengaruhnya diprediksi bertahan sampai Februari 2027. Panas permukaan laut ikut naik. Cuaca ikut berubah.
Risiko global makin lebar
Guterres menegaskan ilmu pengetahuan tidak memberi ruang ragu: bumi sedang berada dalam kondisi yang belum terpetakan dan sulit diprediksi. Di banyak wilayah, El Niño memicu dua wajah cuaca yang ekstrem sekaligus. Ada daerah yang diguyur kekeringan berkepanjangan, sementara wilayah lain diterjang badai topan dan banjir besar.
Dampaknya terasa luas. Cuaca yang lebih panas ikut menekan banyak kawasan, lalu memperberat beban pemanasan global yang sudah lebih dulu menekan sistem iklim. Di beberapa negara, situasi ini membuat pemerintah bergerak lebih cepat untuk menyiapkan langkah darurat. Soalnya, waktu tidak panjang.
Indonesia masuk fase waspada
Di Indonesia, BMKG sudah menegaskan El Niño 2026 aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada akhir Juli lalu mengatakan fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di tengah Samudra Pasifik naik lebih dari 0,5 derajat Celsius. Saat ambang itu terlewati, kondisi El Niño aktif dan perlu diantisipasi.
BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini lebih kering dan lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Risiko yang mengintai pun nyata: kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan pada sektor strategis yang bergantung pada air. Di Yogyakarta, BMKG daerah setempat pada 5 Agustus sudah memaparkan hari tanpa hujan yang panjang di sejumlah wilayah. Di Sulawesi, awal musim kemarau juga disebut datang lebih cepat dari normal. Air tanah dan cadangan permukaan jadi perhatian utama.
Koordinasi daerah dan pusat dikebut
BMKG mendorong penguatan mitigasi secara nasional, mulai dari menjaga ketersediaan air sampai pencegahan karhutla. Rapat terbatas di Istana Merdeka pada 28 Juli 2026 juga menempatkan penanganan cuaca ekstrem sebagai agenda penting pemerintah. Di tingkat daerah, BMKG DIY mengajak pemerintah wilayah memakai pendekatan impact-based forecast agar kebijakan lebih tepat sasaran.
Pada awal September, WMO dijadwalkan merilis pembaruan resmi status El Niño-Southern Oscillation lewat analisis triwulanan dan prakiraan musiman dari jejaring pusat iklim regional. Informasi itu dipakai untuk membantu keputusan lintas sektor, termasuk sektor kemanusiaan yang berhadapan langsung dengan kelompok rentan. Bagi banyak wilayah, peta risikonya belum selesai. Dan belum akan cepat reda. “El Niño sedang membesar di depan mata kita,” kata Guterres.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.