JAKARTA — Megawati Soekarnoputri memilih merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Masjid At-Taufiq, Sekolah Partai PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, ketimbang bergabung dalam upacara resmi di Istana Merdeka. Keputusan Presiden kelima RI ini bukan tanpa alasan.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan, dalam momentum kemerdekaan kali ini Megawati ingin menyuarakan pesan soal keadilan sejarah. Lebih dari sekedar ritual, pilihan lokasi ini mencerminkan komitmen politiknya terhadap narasi sejarah perjuangan bangsa.
“Ibu Mega ingin menggambarkan bagaimana keadilan di dalam sejarah itu juga harus diwujudkan. Satu bangsa yang diwarnai oleh berbagai manipulasi historis atas masa lalunya, baik yang baik ataupun yang buruk untuk pembelajaran generasi yang akan datang, itu akan kehilangan jati dirinya,” ujar Hasto pada Senin (17/8/2026).
Pesan inti yang ingin disampaikan Megawati adalah bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah. Poin ini menjadi penekanan khusus dalam narasi yang dibangun melalui kehadiran di Sekolah Partai.
“Kita bisa merdeka bukan karena pemberian Jepang. Kita bisa menghadapi tentara sekutu pemenang Perang Dunia Kedua karena semangat yang berkobar-kobar. Itulah yang kemudian dirasakan hilang karena sejarah yang diputarbalikkan,” jelas Hasto lebih lanjut.
Pameran Sejarah Menjadi Poin Sentral
Megawati tiba sekitar pukul 08.55 WIB mengenakan pakaian berwarna merah, didampingi Ketua DPP PDIP Puti Guntur Soekarno. Ia langsung disambut Hasto beserta sejumlah jajaran DPP PDIP termasuk Ahmad Basarah dan Romy Soekarno.
Sebelum upacara pengibaran bendera dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, Megawati diajak meninjau pameran bertajuk “Jejak Merdeka Putra Sang Fajar” di aula Masjid At-Taufiq. Pameran ini menampilkan berbagai dokumen dan arsip bersejarah, mulai dari detik-detik Proklamasi Kemerdekaan hingga perjalanan Soekarno dalam rangkaian peristiwa perjuangan bangsa.
Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDIP Bonnie Triyana menjelaskan kepada Megawati dan rombongan berbagai materi pameran. Koleksi tersebut mencakup potongan berita koran, surat, poster, foto, dan lukisan yang menggambarkan masa pendudukan Jepang dan pemerintahan kolonial.
Bagian lain pameran menyajikan peristiwa penting lainnya, termasuk 27 Oktober 1945 ketika pasukan Sekutu mendarat di Surabaya dan terjadi pertempuran antara rakyat dengan pasukan Inggris. Arsip juga mengulas perpindahan pusat pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta.
Upacara Bersama Kader PDIP
Berbeda dengan upacara resmi di Istana Merdeka yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, acara di Sekolah Partai dihadiri ratusan kader PDIP. Megawati sebagai pembina upacara memimpin pengibaran bendera Merah Putih di pelataran Masjid At-Taufiq.
Dalam amanatnya saat upacara, mantan presiden ini juga mengajak masyarakat mendoakan korban gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). “Marilah kita mengucapkan doa bersama terutama untuk daerah NTT, terutama Flores. Kita doakan supaya mereka yang telah mengalami musibah untuk menguatkan dirinya,” katanya.
Pilihan Megawati untuk merayakan HUT RI di Sekolah Partai menunjukkan strategi politiknya yang berbeda dari pemerintah pusat. Melalui pameran sejarah dan upacara bersama kader, Megawati tidak hanya merayakan hari kemerdekaan, tetapi juga menyampaikan narasi partai mengenai arti sejati perjuangan mencapai kemerdekaan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.