Kamis, 10 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Karhutla di Jatim Tekan Okupansi Hotel, PHRI Berharap Ada Stimulus

Karhutla di Jatim tekan okupansi hotel di kawasan wisata
Karhutla di Jatim membuat okupansi hotel di sejumlah destinasi wisata turun dan memukul pelaku usaha pariwisata. (Ilustrasi: AI)

SURABAYA — karhutla di Jatim mulai menekan okupansi hotel di sejumlah wilayah wisata, dan dampaknya langsung terasa ke pelaku usaha yang menggantungkan pendapatan pada arus tamu harian. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Jawa Timur menyebut tingkat keterisian kamar di beberapa daerah turun hingga 20%.

Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono mengatakan kondisi itu paling terasa pada pekan ini di wilayah yang terdampak bencana karhutla, mulai dari Malang, Kota Batu, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi. Di awal, penurunan belum tampak karena wisatawan sudah lebih dulu memesan kamar pada pekan sebelumnya. Tapi situasinya berubah cepat.

Okupansi hotel turun di wilayah wisata

Dwi menjelaskan tingkat keterisian kamar hotel di Jawa Timur secara umum rata-rata berada di level 20%-25%. Namun, pada pekan berjalan, okupansi di sejumlah titik terdampak anjlok dari rata-rata 60% menjadi 40%.

Angka itu bukan cuma soal kamar kosong. Di lapangan, hotel yang biasanya ramai akhir pekan mendadak harus menahan laju tamu baru. Reservasi yang sudah masuk tetap berjalan, tapi minat pemesanan berikutnya melambat.

Penurunan paling tajam disebut terjadi di wilayah yang berdekatan dengan titik bencana, seperti Lumajang dan Banyuwangi. Di dua daerah itu, aktivitas wisata dan okupansi bahkan ikut tertekan sampai 60%-80%.

Situasi ini membuat pelaku usaha di kawasan wisata menimbang ulang banyak hal. Jadwal rombongan, pemesanan paket, sampai pengaturan layanan harian ikut bergeser. Satu kalimatnya sederhana. Ketidakpastian menahan uang masuk.

Wisatawan menunggu situasi mereda

PHRI Jatim melihat status buka-tutup kawasan wisata strategis, seperti Kawah Ijen dan Gunung Bromo, ikut memengaruhi keputusan calon wisatawan. Banyak pelancong memilih menunggu sampai kondisi benar-benar mereda sebelum berangkat.

Dwi menegaskan bisnis pariwisata sangat bergantung pada kepercayaan. Bagi wisatawan, terutama rombongan, ketidakpastian dianggap berisiko tinggi. Karena itu, sebagian besar masih memilih reschedule. Namun, jika situasi berlarut sampai pekan depan, opsi itu bisa berubah menjadi pembatalan.

Itu penting. Soalnya, sekali pembatalan masuk, efeknya tidak berhenti di hotel saja. Agen perjalanan kehilangan komisi, restoran kehilangan pengunjung, dan pengelola destinasi ikut terpukul karena aliran wisatawan tersendat.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda