Kamis, 10 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Prabowo: Kalau Nyontek yang Baik Boleh, Saya Ikuti Karier Politik SBY

Prabowo: Kalau Nyontek yang Baik Boleh, Saya Ikuti Karier Politik SBY
Prabowo: Kalau Nyontek yang Baik Boleh, Saya Ikuti Karier Politik SBY

JAKARTAPresiden Prabowo Subianto memuji perjalanan politik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai teladan, bahkan menyatakan siap mencontoh langkah mantan Presiden ke-6 RI tersebut. Ungkapan itu disampaikan saat Prabowo memberikan pidato di acara puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

“Kalau nyontek yang baik boleh. Saya juga bikin partai, maju ke rakyat minta mandat,” kata Prabowo dengan nada ringan yang mengundang gelak tawa ribuan kader Demokrat. Ungkapan tersebut merefleksikan apresiasi mendalam Prabowo terhadap pola karier SBY — dari militer bergeser ke jalur politik melalui mekanisme demokrasi.

Sahabat Angkatan, Perjalanan Berbeda

Prabowo dan SBY adalah sesama peserta werving (penerimaan) Akademi Militer tahun 1970. Namun, mereka lulus dalam tahun yang berbeda. SBY menyelesaikan pendidikan di Akmil tahun 1973 dengan meraih predikat Adhi Makayasa (lulusan terbaik), sementara Prabowo lulus setahun kemudian, tahun 1974.

Prabowo terbuka mengakui perbedaan tersebut di hadapan ribuan peserta. “Saya satu angkatan dengan Pak SBY di Akmil. Masuknya satu angkatan, keluarnya angkatan di bawahnya. Memang dari awal sudah kelihatan bahwa Pak SBY memang taruna yang terbaik, tapi Prabowo Subianto taruna yang bisa diperbaiki,” ujar Prabowo sambil menyebut dirinya sendiri dengan humor.

Dari Jenderal Menjadi Politisi Rakyat

Keduanya pernah menjabat sebagai jenderal TNI sebelum melanjutkan pengabdian melalui jalur politik. Akan tetapi, Prabowo menekankan bahwa latar belakang militer keduanya tidak memisahkan mereka dari nilai-nilai kerakyatan. “Bapak SBY pernah jadi jenderal, saya juga pernah. Tapi kita TNI yang diajarkan, yang dibesarkan, yang dibina sebagai tentara rakyat,” jelasnya.

Prabowo menilai pendidikan sebagai tentara rakyat sejak dini membentuk karakter pengabdian. “Kita dididik dari kecil sebagai tentara rakyat yang berjuang untuk rakyat. Kita justru menghayati bahwa tentara itu adalah milik rakyat,” katanya.

Menurutnya, komitmen tersebut melanjut ketika keduanya mengambil jalur politik. “Kalau kita ingin terus berbakti, mengabdi di bidang politik, kita harus menjalankan politik itu melalui demokrasi,” ujar Prabowo, menekankan bahwa perpindahan dari militer ke politik harus tetap melalui mekanisme demokratis dan mendapat mandat rakyat.

Template Karier: Dirikan Partai, Minta Mandat Rakyat

SBY menjadi model yang Prabowo tiru. Setelah pensiun dari TNI, mantan Presiden 2004-2014 itu mendirikan Partai Demokrat dan maju ke hadapan rakyat untuk meraih mandat melalui pemilu. Prabowo melakukan hal serupa — mendirikan partai dan meminta mandat kepada rakyat untuk memimpin.

Namun perjalanan Prabowo ke kursi presiden tidak semulus SBY. Prabowo mengalami empat kali kekalahan dalam kontestasi pemilihan presiden sebelum akhirnya memenangkan Pilpres 2024. “4 kali tidak dikasih mandat, tapi akhirnya dikasih juga,” ucapnya dengan santai.

Sikap Prabowo terhadap kekalahan-kekalahan tersebut mencerminkan prinsip yang sama dengan Partai Demokrat. Alih-alih terjerembab dalam frustrasi, Prabowo memilih menerima hasil dan kembali mempersiapkan diri. “Saya waktu 4 kali tidak menang saya pun terima, ya sudah, kita maju lagi,” tuturnya.

Apresiasi atas Dukungan Partai Demokrat

Prabowo secara eksplisit mengucapkan terima kasih atas dukungan Partai Demokrat sejak Pemilu 2019 hingga 2024. Bahkan, SBY turun langsung berkampanye membantu Prabowo. Dukungan tersebut muncul, menurut Prabowo, karena keduanya memiliki cita-cita dan prinsip yang sama dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Saya terima kasih atas dukungan Partai Demokrat sejak 2019, 2024 sampai Presiden SBY pun turun ke lapangan, turun bersama-sama berkampanye karena kita memang punya cita-cita dan prinsip yang sama,” kata Prabowo.

Refleksi Sikap Politik dalam Menghadapi Kekalahan

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung perjalanan Partai Demokrat yang pernah berada di puncak kekuasaan dan pernah berada di luar pemerintahan. Dia menggunakan istilah yang halus untuk menggambarkan pengalaman tersebut. “Partai Demokrat pernah menang, pernah tidak menang. Bicara kan harus halus. Pernah di puncak, pernah tidak di puncak. Pernah di pemerintahan, pernah tidak,” ucapnya.

Menurut Prabowo, hal yang membedakan Partai Demokrat adalah sikap politiknya yang relatif terkendali ketika berada di luar pemerintahan. “Tapi waktu tidak berkuasa Partai Demokrat tidak caci maki. Partai Demokrat tidak bakar-bakar,” kata Prabowo, menyoroti kedewasaan partai dalam menerima kekalahan tanpa melakukan tindakan destruktif.

Sikap serupa adalah yang Prabowo coba terapkan. Kekalahan lima kali dalam arena pemilihan presiden tidak membuat Prabowo goyah atau melakukan tindakan merusak. Sebaliknya, dia memilih bangkit dan mempersiapkan diri untuk kontestasi berikutnya — hingga akhirnya rakyat memberikan mandat kepadanya di Pilpres 2024.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 10 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online