Perhatian juga tertuju pada hubungan antaranggota yang saling bersitegang. Presiden Iran Masoud Pezeshkian akan hadir, sementara Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan diperkirakan mengirim perwakilan. Saudi Arabia, yang juga punya hubungan tegang dengan Iran, turut diperkirakan hadir, meski status keanggotaannya di BRICS masih digambarkan ambigu dalam bahan resmi saat ini.
Di titik ini, India bukan cuma tuan rumah. Delhi juga ingin memanfaatkan forum itu untuk pertemuan bilateral. Modi dan Putin dijadwalkan bertemu pada Jumat, sedangkan KTT BRICS membuka peluang bagi Modi dan Xi berbicara tatap muka di tengah hubungan China-India yang masih penuh tekanan.
Tapi jangan berharap banyak. Singh menilai hasil konkret dari pertemuan akhir pekan ini akan sangat terbatas. “In terms of concrete outcomes and what is achievable, I think it’s going to be very, very limited,” katanya.
Kenapa KTT BRICS ini penting
Soal dampak, KTT BRICS ini penting bukan hanya bagi para pemimpin yang datang ke Delhi, tetapi juga bagi arah forum itu sendiri. BRICS kini berisi 11 anggota jika Arab Saudi dihitung, dan kelompok ini mencakup hampir setengah populasi dunia serta sekitar 40% PDB global. Itu membuat setiap pergeseran nada dari India punya efek ke cara blok ini dibaca dunia usaha, pemerintah, dan pasar diplomasi.
India disebut tidak nyaman dengan garis anti-Barat yang belakangan melekat pada BRICS. Singh menekankan bahwa di bawah kepemimpinan India, forum itu tak akan mudah diarahkan ke sikap konfrontatif. “India’s idea of BRICS is more to look at improving trade ties, etc.
In other words, can we do things which are beneficial to us without in any way being confrontational or critical of the West?” katanya.
Di sisi lain, justru status non-blok India bisa menjadi perekat. Papa menilai kekuatan geopolitik India dan jejaringnya di berbagai kubu memberi nilai tambah saat BRICS mencari titik temu. Menurut dia, pendekatan India kemungkinan akan membuat BRICS fokus pada kerja sama praktis dan reformasi tata kelola global, bukan politik blok yang terbuka.
Masalahnya, pembesaran dari lima menjadi 11 anggota membuat konsensus lebih sulit dicapai. Ada lebih banyak rezim otoriter daripada demokrasi di dalamnya, dan banyak anggota punya hubungan bilateral yang panas. Singh menyebut kontradiksi internal seperti itu akan selalu susah disatukan.
Meski begitu, Papa masih melihat peluang pergerakan tahun ini di tiga bidang: perdagangan, kerja sama moneter, dan pertanian. Diskusi diperkirakan mengarah ke peningkatan perdagangan antaranggota, arsitektur keuangan alternatif untuk pertukaran mata uang, serta ketahanan pangan.
India juga lebih tertarik mendorong koordinasi BRICS di WTO ketimbang memaksakan reformasi PBB yang dinilainya belum mendapat dukungan luas.
“India’s WTO ambitions are shared by more members,” kata Papa. Dalam urusan itu, ruang maju memang tampak lebih besar. Dan bagi Delhi, itu sudah cukup untuk menjaga BRICS tetap bergerak, meski pelan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.