Sabtu, 12 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

59% Siswa Vietnam Gagal Capai Kemampuan Membaca Dasar

Siswa Vietnam belajar membaca di ruang kelas dengan buku-buku pelajaran
Studi OECD mengungkapkan 59% siswa Vietnam berusia 15 tahun tidak mencapai kemampuan membaca dasar yang diharapkan. (Ilustrasi: AI)

Hanoi tersentak. Sebuah laporan baru dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengungkap fakta yang cukup pahit bagi sistem pendidikan di Vietnam. Sebanyak 59 persen siswa berusia 15 tahun di sana ternyata gagal mencapai kemampuan membaca dasar.

Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Ini berarti lebih dari separuh remaja Vietnam yang seharusnya siap menghadapi tantangan dunia nyata, justru terperangkap dalam hambatan literasi mendasar. Mereka kesulitan menyerap informasi dari teks dan menggunakannya untuk memecahkan masalah praktis sehari-hari.

Literasi Bukan Sekadar Mengeja

Survei global ini menggunakan standar yang cukup spesifik. Kemampuan membaca fungsional yang diukur OECD bukan cuma soal kelancaran melafalkan kata-kata. Lebih jauh dari itu, siswa diharapkan mampu memahami instruksi kesehatan, membaca kontrak kerja dengan benar, hingga mencerna berita secara kritis. Banyak siswa di Vietnam saat ini gagal memenuhi tolok ukur tersebut.

Bagi mereka yang berada di level ini, teks yang panjang dan kompleks akan terasa seperti bahasa asing. Akibatnya, instruksi kerja yang sederhana saja bisa menjadi jebakan yang membingungkan. Ini adalah ancaman nyata bagi masa depan mereka sendiri.

Kesenjangan di Balik Ruang Kelas

Apa yang sebenarnya terjadi di sekolah-sekolah Vietnam? Banyak pengamat menunjuk ketimpangan akses sebagai biang keroknya. Siswa di pusat kota seperti Hanoi atau Ho Chi Minh City mungkin punya akses buku dan fasilitas lebih baik. Namun, realita di pelosok desa seringkali jauh dari kata layak. Kesenjangan ini mencolok.

Selain persoalan akses, beban kurikulum juga sering jadi kambing hitam. Sekolah-sekolah di Vietnam cenderung mengejar kuantitas materi daripada kualitas pemahaman. Guru-guru dibebani target penyelesaian silabus yang padat, membuat mereka jarang punya waktu untuk melatih siswa membaca secara analitis dan mendalam.

Sumber daya di sekolah pun sering terbatas. Buku-buku bacaan berkualitas minim, sementara motivasi untuk mengasah literasi sejak dini belum menjadi prioritas utama di banyak wilayah. Kondisi ini membuat siswa hanya belajar untuk ujian, bukan untuk memahami dunia di sekitar mereka.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 12 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online