Sabtu, 12 September 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Kontraktor Akui Kerusakan Reflecting Pool Bukan Vandalisme

Kerusakan Reflecting Pool akibat pekerjaan renovasi kontraktor
Kerusakan Reflecting Pool disebut berasal dari pekerjaan perbaikan kontraktor, bukan vandalisme. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Kerusakan Reflecting Pool kini dipersoalkan setelah kontraktor yang menangani renovasi menyebut pekerjaan perbaikannya sendiri membuat lapisan kolam mengelupas dan melepuh, menurut dokumen yang ditinjau The New York Times dan dikutip Axios.

Temuan ini langsung menabrak narasi Presiden Donald Trump, yang berulang kali menyalahkan vandalisme atas kerusakan di kolam ikonik itu. Trump bahkan mendorong agar beberapa orang diproses hukum, meski Jaksa AS Jeanine Pirro sudah menghentikan perkara tersebut.

Kontraktor menyebut ada masalah pada pekerjaan

Dalam laporan pembanding yang mengutip dokumen sama, The Guardian menyebut kontraktor yang mengerjakan renovasi mengakui adanya “human oversight” dan cacat dalam rencana perbaikan. Independent menulis bahwa dokumen itu menunjukkan pekerjaan yang salah, bukan sabotase, menjadi pemicu utama kerusakan pada liner baru kolam.

Salah satu poin yang disorot adalah penggunaan primer yang terlalu sedikit. Kekeliruan itu disebut membuat lapisan liner saling menempel dan akhirnya rusak. Masih menurut laporan pembanding, lapisan berwarna biru itu juga memuat dua bahan kimia yang tidak cocok ketika dipakai bersama.

Independent menjelaskan, bahan kimia di lapisan atas memanas lebih tinggi daripada yang bisa ditahan lapisan bawah. Panas itulah yang disebut membuat lapisan bawah melepuh dan terlepas. Kontraktor juga disebut tidak memperkirakan hasil seperti itu karena kombinasi produk tersebut jarang dipakai dengan cara itu.

Benarkah vandalisme seperti kata Trump?

Di sinilah persoalannya jadi lebih besar dari sekadar kolam rusak. Bila temuan dokumen itu benar, tudingan vandalisme yang selama ini diulang Trump ikut goyah. Bagi publik, ini berarti arah tanggung jawab bergeser: dari dugaan tindakan kriminal ke dugaan kesalahan pengerjaan proyek.

Perubahan narasi itu penting karena kasus ini sempat dipakai untuk mendorong proses hukum. The Guardian melaporkan kontraktor Atlantic Industrial Coatings mendapat kontrak tanpa tender senilai $14.7m untuk proyek tersebut. Angka ini memperkuat sorotan pada bagaimana proyek dijalankan dan mengapa hasilnya justru bermasalah.

Trump sebelumnya juga menyebut ada luka sepanjang 350-foot slit pada lapisan kolam dan mengatakan kerusakan itu dilakukan dengan box-cutter atau pisau semacam itu, menurut laporan pembanding. Namun dokumen yang kini beredar justru mengarah ke kegagalan instalasi dan desain kerja.

Dampaknya ke reputasi proyek renovasi

Untuk publik di Amerika Serikat, kasus ini bukan cuma soal satu fasilitas bersejarah yang ditutup pagar. Ini juga menyangkut kepercayaan pada proyek renovasi pemerintah, terutama jika tudingan awal begitu keras tetapi bukti belakangan mengarah ke kesalahan internal kontraktor.

Lincoln Memorial Reflecting Pool sendiri masih tetap ditutup dan dipagari, menurut laporan pembanding. Kondisi itu membuat polemik belum selesai, karena pertanyaan berikutnya bukan lagi siapa yang merusak, melainkan bagaimana proyek perbaikan bisa berujung pada kerusakan yang lebih mencolok.

The New York Times melaporkan dokumen itu menjadi dasar yang menantang klaim Trump. Di sisi lain, The Guardian dan Independent sama-sama menegaskan bahwa temuan baru tersebut bertolak belakang dengan tudingan vandalisme yang selama ini disuarakan Gedung Putih.

“The contractor said it had not expected that outcome because it was very uncommon to mix the two products in that way,” tulis Independent mengutip laporan The New York Times, merujuk pada dua bahan yang tidak cocok dalam lapisan perbaikan kolam.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda