BANDUNG — Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung menghadapi ancaman tersembunyi dalam menangani kebakaran lahan di kawasan Puncak Ciumbuleuit (Punclut) pada Senin malam (14/9): gas metana yang berpotensi meledak dari timbunan sampah berusia lama di lokasi tempat pembuangan sampah (TPS).
Petugas mulai menangani kebakaran sejak pukul 19.16 WIB dengan menerjunkan delapan unit kendaraan pemadam dan puluhan personel gabungan. Namun kondisi medan yang menantang — lokasi berada di tebing curam dan dasar lereng — membuat proses pemadaman berlangsung hingga 15 jam lamanya sebelum api akhirnya bisa dijinakkan pada Selasa (15/9) siang.
Kepala Diskarmatan Kota Bandung Soni Bakhtiar menerangkan bahwa gas metana menjadi fokus antisipasi khusus tim. “Kita mengantisipasi jangan sampai ada timbunan gas metan dari tumpukan sampah yang cukup lama. Ini juga sedang kita asesmen apakah ada gas metananya atau tidak,” ujar Soni.
Pembakaran Sampah Picu Api Cepat Rambat
Kebakaran diduga berawal dari aktivitas pembakaran sampah di masa musim kemarau. Sampah yang telah mengering karena cuaca panas membuat api dengan cepat merambat ke lahan sekitar yang dipenuhi alang-alang dan rumput liar.
“Setiap tumpukan sampah pasti ada gas metananya. Mau itu kompos, mau itu sampah, pasti ada gas metananya. Oleh karenanya, berhati-hatilah pada saat melakukan pembakaran sampah, apalagi di tempat pembuangan sampah. Ini sangat membahayakan,” peringatnya.
Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 2,2 hektare. Proses pemadaman mengalami hambatan signifikan karena medan yang tidak ideal.
Kepala Bidang Pemadaman Disdamkarmatan Leonard mengungkapkan tantangan nyata di lapangan: “Kesulitannya medannya itu curam dan juga rawan longsor.” Petugas pemadam terpaksa turun ke area tebing dan lembah secara manual untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses kendaraan.
Kebutuhan Air Capai 40.000 Liter
Penanganan kebakaran memerlukan sumber daya yang besar. Kurang lebih 11 kendaraan pemadam dan puluhan petugas terus bekerja menyisir area yang terbakar, menggunakan sekitar 40.000 liter air untuk proses pemadaman dan pendinginan. Bahkan setelah api berhasil dipadamkan, tim masih melakukan pengawasan ketat untuk memastikan tidak ada titik api tersembunyi di bawah sampah yang dapat kembali membesar.
Soni memastikan lokasi kebakaran cukup jauh dari permukiman warga — sekitar 500 meter — sehingga hingga Selasa sore, api belum secara langsung mengancam rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Namun imbauan untuk masyarakat tetap dikeluarkan: jangan melakukan pembakaran sampah sembarangan, terutama di masa musim kemarau.
“Kami sudah sering mengimbau kepada warga masyarakat di musim kemarau ini jangan melakukan pembakaran sampah. Karena takut merembet ke lahan-lahan lain yang kosong atau rumput-rumput liar, ilalang yang sudah mengering,” kata Soni.
Menurutnya, protokol standar menuntut setiap insiden kebakaran klasifikasi TK65 harus dituntaskan hingga benar-benar selesai dan aman, tanpa risiko apinya menyala kembali.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.