Warga RT 05/RW 02 Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, kini punya barikade baru menghadapi ancaman musim kering dan amukan api. PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi turun langsung ke lapangan untuk meluncurkan Program Desa Siaga Bencana 2026.
Fokusnya jelas: memitigasi risiko kekeringan dan kebakaran yang kerap mengintai kawasan permukiman padat penduduk tersebut.
Langkah nyata ini bukan sekadar seremoni. PLN UIP Sulawesi menyisir kebutuhan warga melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Mereka membekali masyarakat dengan dua senjata utama, yaitu edukasi penggunaan air yang bijak serta teknik pencegahan dini kebakaran lingkungan.
Pendekatan ini dipilih karena karakteristik wilayah Tallo yang sangat rentan terhadap kedua masalah tersebut saat kemarau tiba.
Sinergi di Level Akar Rumput
Suasana kerja bakti mewarnai peluncuran program ini di Makassar, Senin (20/5). Warga bahu-membahu membersihkan selokan dan merapikan lingkungan permukiman bersama staf PLN.
Tak sendirian, aksi ini juga melibatkan perangkat pemerintah kelurahan, pengurus RT/RW, hingga Kelompok Kaltana (Kelompok Tanggap Bencana) setempat. Mereka terjun langsung untuk memastikan setiap sudut permukiman memenuhi standar aman dari risiko musibah.
Senior Manager Perizinan, Pertanahan, dan Komunikasi PLN UIP Sulawesi, Henry Donald Mangatas Silaen, menegaskan bahwa kehadiran PLN adalah bentuk tanggung jawab perusahaan menjaga ketahanan sosial. Menurutnya, kesadaran kolektif jauh lebih efektif daripada sekadar pemadaman saat api sudah menjalar. Dia ingin warga di Kaluku Bodoa memiliki “insting” preventif yang kuat dalam keseharian mereka.
“Kami mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap penggunaan air dan pencegahan kebakaran. Program ini menjadi wadah agar mereka mandiri saat menghadapi kondisi darurat,” ujar Henry di sela-sela kegiatan. Ia menambahkan, infrastruktur paling tangguh adalah masyarakat yang teredukasi dengan baik.
Ketua Kelompok Kaltana Kaluku Bodoa, Hanah, tidak menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, bantuan yang diberikan PLN bukan soal materi, melainkan pembiasaan pola pikir baru. Warga diajak disiplin mengelola stok air bersih di rumah masing-masing agar tidak boros. Apalagi, ancaman kekeringan di Makassar sering kali membuat suplai air ke wilayah padat penduduk tersendat drastis.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.