Asap hitam pekat membubung tinggi di atas hamparan perkebunan sawit kawasan Pembuang Hulu, Kalimantan Tengah, akhir pekan lalu. Kobaran api tak terbendung, melahap tanaman sawit serta lahan vegetasi di sekitarnya hingga memicu kekhawatiran warga setempat.
Rekaman amatir yang tersebar luas di linimasa Threads memperlihatkan bagaimana petugas berjibaku melawan kobaran api yang merambat cepat, didorong embusan angin di lahan gambut yang memang rentan terbakar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan situasi di lapangan kini dalam pengawasan ketat. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa tim Satgas Darat sudah dikerahkan untuk memantau titik api tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari prosedur tetap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus diintensifkan di wilayah Kalimantan.
Prosedur Penanganan di Lapangan
Berton menjelaskan, setiap laporan kebakaran selalu melalui tahapan verifikasi ketat sebelum operasi pemadaman skala besar digelar. Begitu ada laporan masuk, tim di lapangan segera bergerak melakukan pengecekan langsung ke titik koordinat. “Satgas Darat juga sudah tetap akan melakukan pemantauan,” ujar Berton saat memberikan keterangan di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9).
Pemantauan bukan sekadar rutinitas. Petugas harus memastikan skala kebakaran, arah angin, serta akses sumber air terdekat untuk mendukung mobilisasi peralatan. Protokol ini menjadi standar operasional wajib bagi seluruh satuan tugas yang bertugas di wilayah rawan karhutla. Menurut Berton, efektivitas pemadaman sangat bergantung pada kecepatan data yang dihimpun oleh tim di darat.
Setelah data terkumpul, informasi tersebut langsung diteruskan antar-satgas melalui jalur komunikasi internal yang terintegrasi. “Satgas Darat akan melaporkan ini nanti ke sesama Satgas Darat melalui komunikasi untuk segera melakukan pemadaman,” tambah dia.
Respons cepat menjadi kunci utama agar api tidak meluas dan merembet ke area konservasi atau pemukiman warga yang lokasinya tak jauh dari perkebunan.
Sinergi Satgas Udara dan Darat
Selain mengandalkan kekuatan personel di darat, BNPB juga menyiagakan Satgas Udara. Penggunaan helikopter pemantau atau teknologi water bombing menjadi opsi yang akan diambil jika medan api sulit dijangkau lewat jalan setapak atau akses darat terputus.
Pendekatan kombinasi ini memberikan gambaran komprehensif terkait luasan dampak kebakaran. Pemantauan udara sangat krusial, terutama ketika jarak pandang di lokasi mulai tertutup asap tebal.
Berton menegaskan bahwa setiap laporan yang masuk tidak akan dibiarkan begitu saja. Petugas di lapangan telah memiliki prosedur baku untuk merespons setiap deteksi titik panas maupun kebakaran aktif. “Tentu ini sudah bagian dari pekerjaan yang ada di lapangan untuk merespons setiap laporan yang datang kepada Satgas,” tegasnya.
Sejauh ini, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah masih menjadi variabel utama yang memengaruhi pergerakan api. Musim kemarau yang sempat melanda membuat kondisi lahan kering dan mudah tersulut.
Meski upaya pemadaman terus dilakukan, tantangan geografis di Pembuang Hulu menuntut ketelitian tim Satgas agar operasi tidak hanya mematikan api di permukaan, tetapi juga memastikan sisa bara di bawah lapisan gambut benar-benar padam.
Hingga saat ini, tim gabungan masih terus bersiaga penuh. BNPB menginstruksikan agar setiap personel tetap waspada terhadap potensi munculnya titik api baru akibat sisa-sisa pembakaran yang belum sepenuhnya padam. Fokus utama tetap pada isolasi area terbakar agar tidak meluas lebih jauh ke area lahan perkebunan sawit produktif lainnya yang berdekatan dengan titik api awal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.