PANGKALAN BUN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan jalan lintas Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, kini mulai merambah ke Hutan Kemasyarakatan (HKm) Masoraian. Api yang membakar area di tepi jalan utama ini mengancam keberadaan aset hutan milik masyarakat lokal yang telah dikelola secara berkelanjutan.
Karhutla di kawasan strategis ini memicu kekhawatiran bagi warga setempat dan pemerintah daerah. Hutan kemasyarakatan menjadi sumber penghidupan sekaligus penyangga ekosistem bagi komunitas di Kotawaringin Barat. Jika api terus meluas, dampaknya tidak hanya merusak vegetasi hutan, melainkan juga mengurangi mata air yang menjadi sumber air bersih masyarakat.
Kondisi Lapangan Semakin Kritis
Upaya pemadaman telah dilakukan oleh petugas dari berbagai lembaga terkait. Namun, cuaca kering yang berkepanjangan membuat api sulit dikendalikan. Musim kemarau yang panjang di Kalimantan Tengah menjadi faktor utama penyebaran cepat kebakaran, terutama di area dengan vegetasi kering dan akumulasi bahan bakar yang tinggi.
Masyarakat sekitar melaporkan bahwa asap kebakaran sudah mencapai pemukiman di dekat lokasi karhutla. Visibilitas di jalan lintas Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama berkurang signifikan, mengganggu mobilitas kendaraan pengguna jalan. Potensi kecelakaan meningkat seiring tebalnya asap yang membumbung ke udara.
Ancaman terhadap Hutan Kemasyarakatan Masoraian
Hutan Kemasyarakatan Masoraian bukan sekadar lahan hijau. Kawasan ini merupakan hasil pengelolaan kolektif masyarakat lokal yang telah berlangsung bertahun-tahun. Keberadaan HKm ini penting bagi konservasi keanekaragaman hayati sekaligus sebagai penyerap karbon alami.
Jika api menyentuh perimeter hutan kemasyarakatan, akan terjadi kehilangan pohon-pohon produktif yang menjadi sumber pendapatan masyarakat melalui hasil hutan non-kayu.
Potensi erosi tanah juga meningkat pasca kebakaran, yang dapat memperburuk kondisi lahan dalam jangka panjang dan mengurangi kesuburan tanah. Kerusakan infrastruktur hutan seperti jalur trekking dan fasilitas pengelolaan juga menjadi risiko nyata.
Respons dan Pencegahan
Respons cepat dari aparat sangat diperlukan untuk mencegah api meluas lebih jauh. Koordinasi antara Dinas Kehutanan Kotawaringin Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan masyarakat lokal menjadi kunci efektivitas pemadaman. Mobilisasi sumber daya termasuk alat berat, pompa air, dan tenaga kerja harus ditingkatkan agar sesuai dengan skala kebakaran yang dihadapi.
Pencegahan lebih lanjut memerlukan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya membuka lahan dengan api di musim kering. Praktek pembakaran untuk pembersihan lahan yang tidak terkontrol masih menjadi pemicu utama karhutla di wilayah ini. Program patroli dan monitoring di area rawan bakar juga perlu diperkuat, khususnya menjelang dan selama musim kemarau.
Situasi karhutla di Kotawaringin Barat mencerminkan tantangan pengelolaan hutan dan lahan yang kompleks di Kalimantan Tengah.
Hutan kemasyarakatan seperti Masoraian membuktikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus mendukung ekonomi lokal.
Upaya pemadaman yang berkelanjutan dan strategi pencegahan jangka panjang menjadi investasi penting bagi masa depan kawasan ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.