Langit malam di Desa Marampiau, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, berubah jingga kemerahan pada Minggu malam. Api dengan cepat merambat, melahap vegetasi kering di hamparan lahan semak belukar hingga mencapai luas tiga hektare.
Warga setempat yang melihat kepulan asap membumbung tinggi segera melaporkan kejadian tersebut kepada petugas berwenang agar api tidak merembet ke pemukiman penduduk yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapin menerima laporan kebakaran tersebut tepat pukul 19.21 Wita. Tanpa membuang waktu, tim gabungan langsung meluncur ke lokasi untuk menjinakkan si jago merah. Upaya pemadaman berlangsung alot selama lima jam penuh di bawah kegelapan malam yang menyulitkan jarak pandang.
Kerja Keras Tim Gabungan di Lapangan
Kondisi medan yang berat menjadi tantangan tersendiri bagi para personel di lapangan. Area yang terbakar didominasi semak belukar tebal dan pepohonan yang sudah mengering akibat musim kemarau. Api sangat mudah sekali menjalar.
Petugas harus berjibaku membawa peralatan pemadam portabel masuk lebih dalam ke area lahan, lantaran unit tangki air berukuran besar tidak mampu menjangkau titik api yang letaknya cukup tersembunyi.
Sinergi menjadi kunci utama dalam operasi pemadaman malam itu. Personel BPBD Tapin bahu-membahu dengan jajaran TNI, Polri, serta relawan dari BAPARA, BALAKAR, dan Tim Reaksi Tanggap (TRT).
Tak ketinggalan, masyarakat setempat juga turun tangan membantu menyodorkan peralatan seadanya agar api segera padam. “Alhamdulillah setelah lima jam melakukan pemadaman, titik api berangsur padam,” tulis Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Tapin dalam laporan resminya.
Memasuki Senin pagi, tim gabungan melakukan penyisiran ulang ke area terdampak. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi bara yang tertinggal di bawah tumpukan serasah atau akar pohon. Jika tidak segera dimatikan, bara tersembunyi ini berisiko memicu api baru saat suhu udara mulai naik pada siang hari.
Ancaman Lahan Kering
Kepala BPBD Kabupaten Tapin menegaskan bahwa kawasan tersebut memang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Struktur lahan yang sedang mengalami kekeringan ekstrem membuat vegetasi di sana sangat rentan terbakar hanya karena percikan api kecil. Pihak otoritas terus memantau situasi di lapangan secara berkala untuk meminimalisir risiko kebakaran susulan yang mungkin terjadi di titik yang sama.
Meski api sudah berhasil dikendalikan, pertanyaan besar masih menggantung mengenai asal-muasal api. Hingga saat ini, pihak kepolisian dan BPBD belum bisa memastikan apa yang menjadi pemicu kebakaran tersebut. Apakah ada unsur kelalaian manusia, sisa pembakaran sampah yang tidak diawasi, atau faktor alam lainnya, semuanya masih dalam proses penyelidikan mendalam oleh petugas di lapangan.
Bagi masyarakat di sekitar Candi Laras Selatan, insiden ini menjadi peringatan keras. Mengingat cuaca yang masih kering dan potensi angin kencang di beberapa wilayah Kabupaten Tapin, setiap aktivitas yang melibatkan api harus benar-benar diperhatikan.
Pengawasan ekstra dari warga menjadi garis pertahanan pertama sebelum api berubah menjadi bencana besar yang menghanguskan lahan pertanian atau pemukiman mereka.
Saat ini, lokasi kebakaran masih dipantau oleh unsur terkait. BPBD juga meminta pemerintah desa setempat untuk terus memberikan edukasi kepada warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama selama musim kemarau berlangsung.
Pemulihan lahan mungkin akan memakan waktu, namun langkah preventif untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali menjadi prioritas utama pihak pemerintah daerah dalam beberapa pekan ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.