KENDARI — Empat pekerja tambang nikel PT Kelompok Delapan Indonesia (KDI) meninggal dunia tertimbun tanah longsor di Blok A, Desa Lameruru, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Selasa (22/9) pukul 16.40 WITA. Tragedi menimpa saat tim produksi sedang melakukan aktivitas rutin: mengambil sampel material untuk dibawa ke laboratorium.
Kapolsek Wiwirano Ipda Januar Irfan menjelaskan kejadian berawal dari longsor skala kecil yang menimbun satu unit ekskavator. Enam karyawan kemudian mencoba mengevakuasi alat berat itu. “Mengingat kondisi cuaca yang mulai mendung serta jam kerja yang telah memasuki akhir giliran, proses evakuasi alat berat sempat dihentikan dan direncanakan berlanjut pada Rabu pagi,” ujar Januar.
Namun saat tim produksi hendak meninggalkan lokasi, longsor susulan dengan skala jauh lebih besar tiba-tiba terjadi. Material tanah menghujam area kerja dan menimpa enam karyawan yang masih berada di lokasi tersebut. Dua di antaranya—Dedi Akumadi (46) dan Muh. Murtazan (20)—berhasil menyelamatkan diri, termasuk operator ekskavator. Empat lainnya tertimbun dalam material longsor.
Empat korban meninggal dunia itu diidentifikasi sebagai Brian Yoga Pratama, Peris (44), Ghea Kurnia Yoga (27), dan Wayan Juliana Putra (27). Personel Polsek Wiwirano yang tiba di lokasi langsung melakukan penanganan awal bersama tim identifikasi. Proses evakuasi seluruh korban berhasil diselesaikan pada Rabu (23/9).
Longsor Susulan Berubah Menjadi Bencana
Menurut Kapolres Konawe Utara AKBP Rico Fernanda, rangkaian peristiwa menunjukkan eskalasi risiko yang tidak terprediksi. Awalnya, longsor kecil hanya mengubur ekskavator—situasi yang dianggap dapat ditangani pada hari berikutnya. Tim sudah merancang evakuasi lanjutan untuk pagi hari Rabu, menunda proses karena cuaca memburuk dan waktu kerja sudah mencapai akhir shift.
Namun keputusan untuk mundur dari lokasi tidak menghindari musibah. “Setelah tim produksi berjalan untuk kembali dan ekskavator juga akan keluar, tiba-tiba terjadi longsor dan mengakibatkan 6 orang tertimpa longsor,” jelas Rico. Longsor susulan ini jauh lebih dahsyat, membuktikan bahwa tanah di area tambang Blok A masih dalam kondisi tidak stabil.
Kecelakaan kerja ini menjadi pengingat serius bagi operasional pertambangan nikel di Konawe Utara. PT KDI, sebagai operator di lokasi, kini menghadapi pertanyaan tentang protokol keselamatan dan penilaian risiko bencana alam di tengah musim hujan. Daerah Konawe Utara memang dikenal rawan longsor, terutama saat cuaca tidak stabil dan intensitas hujan meningkat.
Dampak bagi Sektor Pertambangan dan Keluarga Korban
Tragedi ini berdampak langsung pada keluarga empat korban yang tiba-tiba kehilangan pencari nafkah. Peris (44), Ghea Kurnia Yoga (27), dan Wayan Juliana Putra (27) meninggalkan keluarga dengan kondisi finansial yang tidak jelas. Brian Yoga Pratama juga termasuk dalam daftar korban yang dikonfirmasi oleh pihak kepolisian.
Bagi PT KDI sendiri, insiden ini akan membuka peninjauan mendalam terhadap standar keselamatan kerja. Pertambangan nikel—khususnya dalam fase penggalian dan pengambilan sampel—melibatkan risiko tinggi. Perlunya evaluasi protokol evakuasi darurat, pemantauan kondisi cuaca real-time, dan pelatihan respons cepat karyawan menjadi urgen setelah kejadian ini.
Peran stakeholder lain, mulai dari Dinas Pertambangan Provinsi Sulawesi Tenggara hingga instansi kesehatan dan keselamatan kerja, akan diuji dalam memberikan rekomendasi perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang di sektor pertambangan lainnya di kawasan tersebut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.