Kamis, 24 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Cucu Gunung Krakatau Muncul di Selat Sunda, Pakar Bilang Gini

Cucu Gunung Krakatau Muncul di Selat Sunda, Pakar Bilang Gini
Citra satelit Sentinel menangkap penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau setelah erupsi 25 jam pada 4–6

Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga tenggelam kembali. Bahkan longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat.

Syarat Ketat untuk Jadi Gunung Baru

Pertanyaan lanjutan yang wajar: bisakah “Cucu Krakatau” ini berkembang menjadi gunung api independen? Daryono menekankan, pembentukan gunung api membutuhkan sejumlah syarat ketat. Agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api berdiri sendiri, harus memenuhi tiga syarat geologis utama.

Pertama, daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.

Kedua, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.

Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri—adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.

“Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif,” tegas Daryono.

Status Turun ke Level II, Tapi Tetap Dipantau

Sebelumnya, status Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan. Sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB, gunung tersebut dinaikkan menjadi Level III (Siaga) berdasarkan peningkatan kegempaan vulkanik dan deformasi. Erupsi menerus menyebabkan gunung mengalami 224 kali letusan hingga 3 September 2026.

Namun, pada Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB, Badan Geologi menurunkan statusnya menjadi Level II (Waspada). Meskipun status turun, pemantauan tetap dilakukan melalui dua pos pengamatan: Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Badan Geologi sendiri menekankan, data citra satelit sebelum-sesudah erupsi masih dalam tahap pencocokkan dan verifikasi lapangan sedang dilakukan. “Langkah paling bijak yang perlu dilakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi yang berwenang, seperti PVMBG.

Dengan memahami sains di balik fenomena ini, kita dapat tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh petugas di lapangan,” jelas Daryono.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 24 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online