Kamis, 24 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Jejak Hilangnya Kapal Pembawa 5 Wartawan hingga Jenazah Surakman Ditemukan

Operasi pencarian kapal Arupadatu 1 di perairan Selat Sunda oleh Basarnas
Pencarian kapal Arupadatu 1 yang membawa lima jurnalis dilakukan selama 10 hari di perairan Selat Sunda sebelum dialihkan menjadi pemantauan. (Ilustrasi: AI)

PANDEGLANG — Pencarian 16 hari menemukan titik terang. Jasad Surakman, salah satu ABK kapal Arupadatu 1, akhirnya ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu. Penemuan itu membawa harapan baru bagi keluarga lima wartawan yang masih hilang sejak kapal tersebut menghilang kontak pada 7 September 2026.

Kapal Arupadatu 1 bertolak dari Dermaga Marina Lippo Carita, Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, sekitar pukul 14.00 WIB pada hari itu. Kapal bermuatan lima jurnalis yang sedang meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, ditambah tiga ABK termasuk Surakman dan kapten Warta, plus pemandu Heriyanto.

Lima wartawan itu adalah M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, dan Donal Husni (jurnalis lepas). Mereka hilang kontak di perairan Selat Sunda tanpa jejak apapun.

Jenazah Ditemukan Setelah Dimakamkan Warga

Warga Pulau Enggano menemukan jenazah Surakman pada 12 September, lima hari setelah kapal hilang. Karena kondisi jasad yang sudah dalam keadaan membusuk dan tidak ada yang mengenali, warga memakamkan jenazah malam itu tanpa identifikasi terlebih dahulu.

“Jenazah ditemukan di Pulau Enggano pada Sabtu, 12 September lalu. Hari itu bertepatan dengan hari kelima saat pencarian seluruh korban dilakukan,” kata Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, Kabid Humas Polda Banten, pada Rabu (23/9).

Keesokan harinya, setelah informasi mengenai penghilangan orang tersebar, makam kembali digali warga. Polda Bengkulu membawa jenazah untuk pemeriksaan DNA yang hasilnya mengkonfirmasi identitasnya sebagai Surakman alias Sukarman, berusia 60 tahun, asal Carita, Pandeglang.

Surakman bukan pendatang di laut. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah menjadi nelayan. Ratusan kali ia berlayar menuju Gunung Anak Krakatau dan Ujung Kulon. Setelah proses identifikasi usai, jasadnya direncanakan dikirim dari Bengkulu ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Kamis (24/9) untuk diserahkan kepada keluarga.

“Jenazah akan diberangkatkan besok dari Kabiddokkes Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta yang akan kita terima bersama Gubernur, Basarnas, dan Tim Terpadu,” ujar Kapolda Banten Irjen Hengki dalam jumpa pers di Mapolda Banten, Rabu (23/9).

Harapan Baru Keluarga Korban Lain

Penemuan jenazah Surakman membawa angin harapan. Mansyur, ayah M. Bagus Khoirunnas yang masih hilang, meminta Basarnas melanjutkan operasi pencarian.

“Kami berharap ada pencarian karena sudah ada titik terang. Kami minta Basarnas kembali melakukan pencarian korban Selat Sunda,” kata Mansyur saat dihubungi, Rabu (23/9).

Namun Basarnas Banten menyatakan pencarian telah dilakukan selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari menjadi total sepuluh hari. Karena tidak ada tanda-tanda keberadaan korban, operasi dihentikan dan dialihkan menjadi pemantauan melalui komunikasi dengan nelayan dan kapal yang melintas di Selat Sunda.

“Secara aturan kita itu melaksanakan pencarian tujuh hari, diperpanjang sampai 10 hari, tidak ada tanda-tanda korban,” kata Al Amrad dari Basarnas Banten.

Kapal Arupadatu 1 sendiri hingga kini belum ditemukan. “Yang pasti dari sampai dengan sekarang, Arupadatu 1 kapalnya kan tidak ada yang ditemukan,” kata Irjen Hengki.

Terkait lima jurnalis lain yang masih hilang, belum ada data pasti tentang kondisi mereka. “Bagaimana korban yang lain saya belum tahu apakah mereka selamat atau enggak, saya berdasarkan data-data yang ada seperti yang kita temukan sekarang,” ujarnya.

Keluarga Bersyukur Meski Kehilangan

Di tengah kabar duka, keluarga Surakman menunjukkan ketabahan. Yayat Surhadi, putra kedua Surakman, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pencarian sejak 7 September.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa ditemukan. Walaupun keadaannya seperti ini, kami tetap bersyukur. Mungkin ini sudah menjadi takdir. Saya ikhlas menerima,” kata Yayat, Rabu (23/9).

Kakak Surakman, Ratna (64), tidak mampu menahan tangis. Ia mengenang adiknya sebagai pekerja keras yang sejak kecil sudah bekerja di laut. “Sedih ga bisa ketemu lagi. Dia mah dari kecil udah kerja, orangnya ga pernah sakit. Mungkin ga pernah dirasa,” ucap Ratna di kediamannya.

Sebelum hilang, Surakman sempat bercerita akan menginap di Ujung Kulon untuk mengantar tamu ke Pulau Peucang. Ratna mengatakan adiknya jarang menceritakan rencananya, namun kali itu ia lebih sering membicarakannya.

Jenazah Surakman rencananya akan dimakamkan di TPU Cidemang, berdampingan dengan makam istrinya. Sementara itu, pencarian untuk lima jurnalis dan dua ABK lainnya masih menunggu perkembangan selanjutnya dari otoritas terkait.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 24 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online