PANDEGLANG — Pesan singkat dari ibu datang Selasa siang itu. Berisi tautan berita tentang delapan orang hilang — lima jurnalis dan tiga awak kapal — dalam misi peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. “Hati-hati, Mbak, tidak ada berita seharga nyawa,” tulisnya. Pesan itu tak sempat dibalas karena hari itu penuh dengan tugas: wawancara, pemotretan, transkrip, penulisan.
Malam harinya, saat lampu kamar sudah gelap dan semua berita telah tayang, pesan itu dibaca kembali dengan cermat. Ada daftar nama yang bertebaran di media sosial, dan sampailah pada satu nama yang menggerakkan hati — rekan sekantor sendiri: Muhammad Bagus Khoirunnas.
Hari berganti hari. Pekerjaan meliput berjalan seperti biasa sampai Rabu pagi, saat koordinator memberi tugas baru: ikut meliput pencarian delapan orang tersebut. Tujuannya, Posko Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Pada hari yang sama, setelah dua hari tidak menghiraukan pesan ibu, nomor teleponnya menjadi tujuan pertama — untuk meminta doa restu agar senantiasa diberi keselamatan di tengah status Gunung Anak Krakatau yang masih dalam siaga 3.
Perjalanan menuju Pandeglang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan sampai di Carita sekitar pukul 13.00 WIB. Sesampai di tujuan, pemandangan standar operasi pencarian sudah tersusun rapi — tenda-tenda milik Basarnas, TNI/Polri, hingga pos ante mortem. Jurnalis dari berbagai media sudah bersiaga sejak pagi untuk melaporkan detik demi detik hasil pencarian, sekecil apa pun.
Satu siang terlewati dan berganti malam. Foto terakhir menampilkan kelima jurnalis saat berangkat menggunakan Kapal Arupadhatu 1 terpampang di depan mata. Satu demi satu wajah diperhatikan dengan teliti — sampailah pada wajah Bagus, rekan sekantor yang hilang.
Kenalan di Pandeglang, Bertemu Kembali dalam Doa
Masih teringat dengan jelas, bagaimana dulu ditugaskan bersama Bagus meliput agenda kementerian di Kabupaten Pandeglang pada Februari 2025. Waktu itu, Bagus terlihat sebagai sosok yang cekatan dan sigap. Awalnya tidak ada tegur sapa — masing-masing sibuk dengan pekerjaan sendiri.
Sampai Bagus melihat kartu identitas bertuliskan ANTARA di dada dan bertanya, “Dari Antara Jakarta ya, Mbak? Saya Antara Foto Banten.” Jawab singkat: “Wah iya, Mas, salam kenal, senang ada barengan.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.