Jumat, 25 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Misteri Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau: Gunung Api Baru Atau Sekedar Endapan?

Misteri Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau
Daratan baru di sekitar Anak Krakatau merupakan hasil penumpukan endapan material vulkanik, bukan gunung api independen

JAKARTA — Daratan baru yang muncul di perairan sekitar Anak Krakatau setelah erupsi besar memicu spekulasi publik tentang kelahiran gunung api atau pulau baru di Selat Sunda. Namun ahli vulkanologi membuktikan bahwa fenomena tersebut jauh lebih sederhana: sekadar penumpukan endapan material vulkanik hasil letusan.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menerangkan mekanisme pembentukan daratan itu dengan jelas. Daratan yang hadir adalah akumulasi material sisa erupsi—abu, batuan, dan lava—yang mengendap secara bertahap di dasar laut hingga akhirnya menyembul ke permukaan. Bukan gunung api independen, melainkan hasil proses geologi yang sederhana namun dinamis.

“Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut. Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut,” kata Daryono dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (24/9/2026).

Kondisi Geologis Mempercepat Penumpukan

Pembentukan daratan di antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung didorong oleh kombinasi faktor unik. Dasar laut di kawasan kaldera purba—sisa letusan dahsyat 1883—tergolong dangkal. Ini berarti material lontaran piroklastik dan aliran lava menumpuk dengan cepat tanpa tersebar jauh ke kedalaman samudra.

Faktor oseanografis turut memainkan peran krusial. Arus dan gelombang Selat Sunda secara aktif memindahkan sedimen, membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan tenang tempat material itu mengendap permanen. Kombinasi ini menciptakan lingkungan ideal bagi terbentuknya daratan vulkanik.

“Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting memindahkan sedimentasi, membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang hingga mengendap secara permanen,” jelasnya.

Nasib Daratan Bergantung Aktivitas Vulkanik

Kehadiran daratan baru itu bersifat sementara dan dinamis. Masa depannya tergantung sepenuhnya pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan kekuatan erosi alam. Daryono menguraikan skenario-skenario mungkin yang dapat terjadi.

Jika Anak Krakatau terus erupsi, pasokan material vulkanik baru akan membuat daratan meluas dan menguat, terutama bila terlapisi lava yang membeku. Namun apabila aktivitas vulkanik berhenti, gelombang dan abrasi laut akan mengikis endapan pasir itu hingga tenggelam kembali ke dalam laut. Bahkan longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar bisa menghancurkan struktur muda ini sepenuhnya.

“Jika Gunung Anak Krakatau terus erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan meluas dan kokoh bila terlapisi lava yang membeku. Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi dapat mengikis endapan pasir tersebut hingga tenggelam kembali. Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini,” kata Daryono.

Status Gunung Mulai Menurun

Sementara itu, aktivitas Anak Krakatau secara keseluruhan menunjukkan tren penurunan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan status gunung api tersebut dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) mulai Senin 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.

Keputusan ini didasarkan pada analisis dan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas vulkanik yang cenderung mereda dan data deformasi menunjukkan gejala deflasi—indikator penurunan tekanan di dalam tubuh gunung.

Selama periode awal September, Anak Krakatau mencatat 224 kali erupsi hingga 3 September 2026.

Namun pasca-rentetan erupsi strombolian dan menyusul erupsi menerus selama 25 jam pada 4-6 September 2026 yang menghasilkan aliran lava ke arah barat laut, barat, dan barat daya, aktivitas vulkanik cenderung menurun.

Pada 20 September 2026, tercatat hanya satu gempa frekuensi rendah dan tremor menerus dengan amplitudo rata-rata 2 milimeter.

Pembatasan Masih Berlaku untuk Keselamatan

Kendati status telah diturunkan, Badan Geologi tetap merekomendasikan masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati kawasan dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas kawah. Larangan ini untuk mengantisipasi potensi bahaya lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan Maturidi menekankan bahwa penurunan status aktivitas vulkanik tidak berarti seluruh ketentuan keselamatan dicabut. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan tetap diminta berhati-hati serta mengikuti arahan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.

Seiring perubahan status, radius larangan aktivitas disesuaikan dari sebelumnya 3 kilometer menjadi 2 kilometer dari pusat aktivitas.

Pemerintah Provinsi Lampung mulai membuka kembali ruang aktivitas masyarakat dengan tetap menjaga kewaspadaan. Penurunan status mencerminkan bahwa aktivitas Anak Krakatau mengalami kecenderungan menurun, namun potensi bahaya belum sepenuhnya hilang.

Masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung juga diimbau tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu menyesatkan mengenai erupsi yang dikaitkan potensi tsunami. Evaluasi situasi terus dilakukan oleh Badan Geologi dengan koordinasi lintas daerah untuk memastikan keselamatan publik.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 25 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online