Saat ini, posko siaga darurat sudah berdiri tegak di Kecamatan Bolano. Titik ini dipilih sebagai basis operasi untuk memangkas jarak mobilisasi bantuan. Setiap hari, tim gabungan bergelut dengan waktu. Mereka mengirimkan sekitar 4.000 hingga 8.000 liter air bersih ke desa-desa yang sudah tidak memiliki akses air layak konsumsi lagi.
Di luar upaya teknis, Rivai melontarkan peringatan keras bagi warga. Ia meminta masyarakat berhenti total dari kebiasaan membakar lahan saat membuka area perkebunan baru. Peringatan ini bukan sekadar imbauan moral, melainkan teguran hukum.
Ada ancaman pidana berat yang menanti para pembakar lahan, baik yang disengaja maupun karena kelalaian, merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Pihak BPBD sekarang lebih memilih strategi pencegahan. Mereka mengedukasi warga agar membersihkan semak belukar di kebun dengan metode manual daripada menggunakan api. “Jangan membakar sampah sembarangan. Saling mengingatkan antar tetangga itu penting,” tutur Rivai saat ditemui di kantornya, Jumat.
Saat ini, satuan tugas siaga darurat terus memantau titik-titik rawan api. Mereka berharap bantuan dari pusat segera tiba agar beban penanganan di lapangan tidak semakin berat. Hingga bantuan turun, tim lapangan tetap bertahan dengan peralatan seadanya untuk menjaga agar api tidak merembet ke pemukiman penduduk yang kini berada dalam kondisi sangat rentan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.