Warga Pekanbaru akhirnya bisa bernapas lega. Setelah tujuh hari terkepung kabut asap tebal, tiga ruang terbuka hijau (RTH) dan taman kota di pusat kota kembali dibuka untuk umum mulai hari ini. Keputusan ini diambil Pemerintah Kota Pekanbaru menyusul tren perbaikan kualitas udara yang terpantau cukup signifikan di wilayah setempat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra, memastikan fasilitas umum yang dapat diakses kembali mencakup RTH Putri Kaca Mayang, RTH Tunjuk Ajar Integritas, serta Taman Kota di Jalan Diponegoro. Selama sepekan terakhir, ketiga titik ini memang ditutup total untuk meminimalisir dampak buruk polusi terhadap kesehatan masyarakat.
Penutupan selama seminggu penuh itu bukan perkara sepele bagi warga. Lapangan yang biasanya ramai oleh tawa anak-anak, aktivitas pesepeda, hingga kelompok komunitas, sempat berubah menjadi area mati yang sepi.
Udara yang dipenuhi kabut tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat aktivitas di luar ruangan menjadi ancaman nyata, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terserang penyakit pernapasan.
Membaiknya Kondisi Meteorologi
Keputusan membuka kembali ruang publik ini murni berpijak pada data lapangan. Tim DLHK terus memantau indeks kualitas udara setiap hari. Pihaknya mencatat, kondisi meteorologi mulai mendukung dalam beberapa hari terakhir. Angin bertiup lebih kencang, sehingga asap terdispersi menjauh dari pusat kota. Cahaya matahari yang kembali menyengat jadi penanda bahwa polusi tidak lagi sepekat minggu lalu.
Meski status taman sudah dibuka, Reza belum berani memberikan jaminan permanen. Pengawasan ekstra ketat tetap dijalankan oleh dinasnya. Ia mengaku tidak akan segan mengambil langkah drastis jika nanti indeks kualitas udara kembali memburuk atau kabut asap kembali menyelimuti langit kota.
“Kami terus memantau. Kalau ada peningkatan asap lagi, kami tidak ragu untuk menutup kembali,” tegas Reza saat dikonfirmasi mengenai protokol kesehatan lingkungan di Pekanbaru.
Langkah preventif seperti ini memang sudah menjadi prosedur standar di kota-kota besar yang kerap terpapar kabut asap. Bagi Pekanbaru, trauma masa lalu terkait bencana kabut asap membuat pemerintah kota bersikap jauh lebih proaktif dan sigap dalam merespons gejala karhutla sebelum situasinya menjadi tidak terkendali.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.