LOMBOK TENGAH — Warga Kampung Adat Sade tidak menunggu lama untuk memulihkan rumah mereka. Sepekan setelah kebakaran, mereka sudah menyiapkan rangka atap dari bambu, menggelar bata merah, dan menata ulang pondasi dengan cepat dan mandiri. Sabtu (26/9/2026), suara palu dan deretan bambu yang dipotong terdengar jelas di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Keputusan warga untuk langsung membangun kembali rumah adat mereka menjadi cerminan ketangguhan komunitas lokal. Mereka tidak menunggu desain penataan kawasan yang sedang disiapkan Pemerintah Provinsi NTB — yang hingga kini belum rampung dan belum disosialisasikan kepada warga.
Setiap bangunan yang dibangun kembali mengikuti tradisi masyarakat Sade turun-temurun: menggunakan bahan lokal seperti bambu untuk kerangka, ijuk untuk atap, dan batu alam untuk fondasi. Bentuk rumah tetap mempertahankan ciri khas adat dengan tata ruang yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Proses Pemulihan Berlangsung Cepat
Ribuan warga terdampak kebakaran memulai proses pemulihan ini dengan cara yang paling praktis: bekerja bersama dengan memanfaatkan material yang tersedia di sekitar kampung. Tidak ada mesin berat, hanya alat-alat tradisional dan tenaga manusia yang terkoordinasi dengan baik. Gotong royong antar rumah tangga dan keluarga menjadi kunci kecepatan pembangunan ini.
Pilihan untuk membangun mandiri tanpa menunggu arahan pemerintah ini juga didorong oleh kebutuhan mendesak. Cuaca musim penghujan akan segera tiba, dan warga memahami bahwa setiap hari yang terlewat berisiko terhadap keselamatan keluarga mereka. Anak-anak, lansia, dan harta benda perlu perlindungan dari hujan dan angin.
Desain Pemerintah Masih Menunggu Sosialisasi
Pemerintah Provinsi NTB telah menyiapkan rancangan penataan kawasan Kampung Adat Sade yang komprehensif. Desain ini dimaksudkan untuk memastikan pembangunan kembali berjalan teratur dan mempertahankan nilai budaya sekaligus meningkatkan standar keselamatan. Namun, proses finalisasi dan sosialisasi ke warga masih dalam tahap lanjut.
Kesenjangan antara desain pemerintah dan keputusan warga untuk segera membangun menciptakan situasi unik. Di satu sisi, inisiatif warga menunjukkan kepercayaan diri dan kemandirian dalam menangani krisis. Di sisi lain, pembangunan yang tidak terkoordinasi dengan desain pemerintah berisiko menciptakan tata letak yang berbeda dengan rencana awal atau mengabaikan beberapa aspek keselamatan modern.
Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mempercepat sosialisasi desain kepada warga, sekaligus mempertimbangkan dinamika pembangunan yang sudah berlangsung di lapangan. Koordinasi antara pemerintah dan masyarakat adat akan menentukan hasil akhir pemulihan Kampung Sade.
Tradisi Tetap Jadi Fondasi
Apa pun desain yang nantinya disepakati, warga Sade telah membuktikan bahwa mereka tidak ingin mengorbankan identitas adat mereka demi kecepatan. Setiap detail pembangunan — dari ukuran tiang, tinggi atap, hingga penempatan pintu — tetap merujuk pada pengetahuan tradisional yang telah terbukti bertahan di iklim tropis Lombok selama puluhan generasi.
Arsitek adat Kampung Sade memahami ventilasi udara yang cukup, permeabilitas air hujan, dan ketahanan terhadap gempa bumi — pengetahuan yang terakumulasi dari pengalaman hidup berabad-abad. Kebakaran yang baru terjadi tidak mengubah keyakinan warga bahwa cara tradisional tetap relevan dan efektif.
Proses pembangunan kembali rumah adat di Kampung Sade, dengan demikian, bukan hanya tentang memulihkan struktur fisik.
Ini adalah upaya komunitas untuk menegaskan kembali identitas mereka, memperkuat ikatan sosial melalui gotong royong, dan membuktikan bahwa tradisi tetap hidup dan relevan dalam menghadapi tantangan modern. Warga Sade memilih jalur mereka sendiri — cepat, mandiri, dan setia pada warisan leluhur.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.