Kenaikan Harga di Kalimantan Barat
Di Kalimantan Barat, harga beberapa jenis BBM juga mengalami kenaikan mulai Senin 28 September 2026. Biosolar tetap Rp6.800, namun Pertamax naik menjadi Rp16.300 dari Rp15.950, Pertamax Turbo menjadi Rp20.000 dari Rp18.300, Dexlite menjadi Rp24.200 dari Rp19.700, dan Dex menjadi Rp25.750 dari Rp21.150. Sementara itu, Pertamax Green 95 stabil di Rp16.600.
Situasi di Kalimantan Barat menunjukkan adanya disparitas harga eceran yang cukup tinggi. Di Pontianak dan Kubu Raya, harga Pertalite eceran mencapai Rp12.000, Sambas Rp13.000, Sekadau Rp15.000, dan bahkan di Kapuas Hulu tembus Rp20.000. Pemerintah Daerah bersama Pertamina telah membentuk Satgas Khusus untuk mengatasi antrean dan distribusi BBM di wilayah tersebut.
Perbandingan dengan BBM Swasta
Untuk periode 10-27 September, harga BBM non-subsidi Pertamina masih lebih kompetitif dibandingkan beberapa penyedia swasta di Jabodetabek. Pertamax 92 Pertamina seharga Rp15.950, sedikit di bawah BP 92 yang Rp16.130 dan Revvo 92 dari Vivo dengan harga yang sama. Untuk jenis diesel, BP Diesel, Shell V-Power Diesel, dan Vivo Primus Plus semuanya di harga Rp25.420, lebih tinggi dari Dexlite dan Pertamina Dex.
Klarifikasi Hoaks Kenaikan Pertalite Rp13.500
Sebelumnya, beredar isu di media sosial mengenai kenaikan harga Pertalite menjadi Rp13.500 mulai 26 September 2026. Namun, Sales Branch Manager IV Fuel Muhammad Naufal Atiyah menegaskan bahwa informasi tersebut bukan berita resmi. Hingga Jumat 25 September 2026, harga Pertalite masih Rp10.000. Naufal menekankan pentingnya memeriksa kanal resmi Pertamina untuk informasi yang valid.
Kenaikan harga BBM diesel nonsubsidi berpotensi memberikan dampak signifikan bagi konsumen. Sebagai contoh, konsumen yang mengonsumsi 60 liter Dexlite per bulan akan menambah pengeluaran Rp243.000, sementara untuk 100 liter, penambahannya mencapai Rp405.000.
Untuk 1 Oktober 2026 mendatang, harga BBM subsidi Pertalite dan Biosolar dipastikan tetap di Rp10.000 dan Rp6.800 hingga akhir tahun. Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga kedua jenis BBM ini. Sementara itu, harga BBM nonsubsidi berpotensi naik Rp200-500 per liter jika harga minyak dunia tetap tinggi dan nilai tukar rupiah melemah. Namun, jika harga minyak turun dan rupiah menguat, ada kemungkinan harga bisa stabil atau bahkan sedikit turun. Bocoran dari Kalimantan Barat mengindikasikan potensi kenaikan harga lebih lanjut.
Masyarakat diimbau untuk membeli BBM sesuai kebutuhan, memilih RON yang sesuai spesifikasi mesin kendaraan, selalu mengecek harga terbaru di SPBU terdekat, menjaga tekanan ban, dan melakukan servis rutin untuk mengoptimalkan efisiensi bahan bakar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.