Selasa, 29 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Karhutla masih parah, Kotim kembali perpanjang status tanggap darurat

Petugas satgas karhutla melakukan penanganan titik api di hutan Kalimantan Tengah saat asap membumbung tinggi
Penanganan kebakaran hutan di Kotim masih berlanjut dengan melibatkan helikopter waterbombing untuk menjangkau area yang sulit diakses. (. (Ilustrasi: AI)

SAMPIT — Kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur belum juga mereda. Pemerintah Kabupaten Kotim, Kalimantan Tengah, memutuskan memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga 15 Oktober 2026 untuk mengantisipasi potensi kebakaran dan kabut asap yang terus mengancam wilayah tersebut.

Keputusan itu diambil usai Bupati Kotim Halikinnor memimpin rapat evaluasi penanggulangan karhutla pada Selasa. Dalam rapat yang melibatkan Wakil Bupati Irawati, Penjabat Sekretaris Daerah Diana Setiawan, serta berbagai instansi terkait dan relawan, muncul consensus mengecek prakiraan cuaca dari BMKG sebelum melepas status darurat.

“Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan yang terjadi saat ini masih merupakan hujan hasil modifikasi atau hujan buatan. Diperkirakan pertengahan Oktober baru mulai masuk musim hujan dengan intensitas rendah hingga sedang, sehingga kami sepakat untuk memperpanjang status tanggap darurat ini,” kata Halikinnor di Sampit.

Status tanggap darurat sebelumnya dijadwalkan berakhir 30 September 2026. Namun, kondisi lapangan dan ancaman karhutla masih memerlukan penanganan intensif, sehingga perpanjangan 15 hari ini dinilai perlu untuk tetap menjaga kesiapan. Halikinnor berharap memasuki pertengahan Oktober curah hujan meningkat, sehingga mampu membantu mengendalikan titik api dan mengurangi kabut asap.

“Kalau sampai tanggal 15 Oktober hujan sudah intensitasnya cukup tinggi, titik api sudah tidak ada dan asap juga tidak ada, maka kita akhiri masa tanggap darurat dan tinggal masuk tahap pemulihan,” ujarnya.

Data kebakaran mencapai angka mengkhawatirkan

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim hingga 29 September 2026, tercatat sebanyak 1.176 kejadian kebakaran dengan luas lahan terdampak mencapai lebih dari 2.009 hektare. Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau telah mencapai 38.304 titik—angka yang menunjukkan tingkat keparahan karhutla di wilayah tersebut.

Data itu merupakan kejadian yang ditangani Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim. Namun, tidak seluruh kejadian dapat ditangani langsung oleh satgas karena terdapat lokasi yang sulit dijangkau. Sebagian penanganan juga dilakukan pemerintah provinsi melalui dukungan helikopter waterbombing, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan data dengan provinsi.

Langkah pemulihan dan pencegahan jangka panjang

Evaluasi penanganan karhutla tidak hanya diarahkan untuk mengatasi kondisi saat ini, tetapi juga menjadi bahan penyusunan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak menimbulkan dampak besar di masa mendatang.

Pemkab Kotim mulai menyiapkan langkah pemulihan terhadap lahan yang terbakar, termasuk kemungkinan penanaman kembali serta pengelolaan lahan kosong agar tidak menjadi lokasi yang mudah terbakar.

“Kami juga meminta Dinas Lingkungan Hidup menyiapkan bibit dan bagaimana lahan-lahan yang terbakar maupun tanah kosong itu bisa dikelola kembali,” ucap Halikinnor.

Pemerintah daerah juga berencana memperkuat kewajiban pemilik lahan untuk membersihkan dan memelihara areal masing-masing. Pemilik lahan di kawasan yang dinilai rawan kebakaran didorong menyiapkan sumber air berupa sumur bor. Langkah tersebut dinilai penting karena karhutla dapat kembali terjadi secara berkala setiap tiga hingga empat tahun saat musim kemarau.

“Kejadian seperti ini hampir siklus tiga sampai empat tahunan pasti ada kondisi panas seperti ini. Ini menjadi pelajaran bagi kita supaya ke depan tidak kewalahan karena sumber air sulit ditemukan saat kemarau,” jelasnya.

Peringatan tegas terhadap pembakaran lahan

Halikinnor menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim dan relawan yang berada di lapangan, sekaligus mengingatkan mereka untuk tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan mengingat penanganan karhutla memiliki risiko tinggi.

Masyarakat kembali diingatkan agar tidak melakukan pembakaran lahan. Pemerintah daerah menyoroti adanya kasus kebakaran yang telah masuk proses hukum karena terdapat dugaan pembakaran lahan secara sengaja. “Jangan sampai kepentingan seseorang merugikan orang banyak. Saya mengimbau masyarakat sekali lagi jangan ada yang membakar lahan,” tegasnya.

Target normalisasi aktivitas sosial

Bupati berharap penanganan karhutla segera menunjukkan hasil sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Salah satu indikator yang diharapkan adalah kembalinya kegiatan belajar tatap muka serta normalnya aktivitas penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit—simbol bahwa kualitas udara telah membaik dan kabut asap berkurang signifikan.

“Harapan kita dalam waktu dekat anak-anak sekolah bisa kembali belajar tatap muka dan mudah-mudahan bandara kita bisa didarati pesawat. Itu barometernya bahwa karhutla tertangani dengan baik dan asap sudah berkurang,” demikian Halikinnor.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 29 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online