Evaluasi penanganan karhutla tidak hanya diarahkan untuk mengatasi kondisi saat ini, tetapi juga menjadi bahan penyusunan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak menimbulkan dampak besar di masa mendatang.
Pemkab Kotim mulai menyiapkan langkah pemulihan terhadap lahan yang terbakar, termasuk kemungkinan penanaman kembali serta pengelolaan lahan kosong agar tidak menjadi lokasi yang mudah terbakar.
“Kami juga meminta Dinas Lingkungan Hidup menyiapkan bibit dan bagaimana lahan-lahan yang terbakar maupun tanah kosong itu bisa dikelola kembali,” ucap Halikinnor.
Pemerintah daerah juga berencana memperkuat kewajiban pemilik lahan untuk membersihkan dan memelihara areal masing-masing. Pemilik lahan di kawasan yang dinilai rawan kebakaran didorong menyiapkan sumber air berupa sumur bor. Langkah tersebut dinilai penting karena karhutla dapat kembali terjadi secara berkala setiap tiga hingga empat tahun saat musim kemarau.
“Kejadian seperti ini hampir siklus tiga sampai empat tahunan pasti ada kondisi panas seperti ini. Ini menjadi pelajaran bagi kita supaya ke depan tidak kewalahan karena sumber air sulit ditemukan saat kemarau,” jelasnya.
Peringatan tegas terhadap pembakaran lahan
Halikinnor menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim dan relawan yang berada di lapangan, sekaligus mengingatkan mereka untuk tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan mengingat penanganan karhutla memiliki risiko tinggi.
Masyarakat kembali diingatkan agar tidak melakukan pembakaran lahan. Pemerintah daerah menyoroti adanya kasus kebakaran yang telah masuk proses hukum karena terdapat dugaan pembakaran lahan secara sengaja. “Jangan sampai kepentingan seseorang merugikan orang banyak. Saya mengimbau masyarakat sekali lagi jangan ada yang membakar lahan,” tegasnya.
Target normalisasi aktivitas sosial
Bupati berharap penanganan karhutla segera menunjukkan hasil sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Salah satu indikator yang diharapkan adalah kembalinya kegiatan belajar tatap muka serta normalnya aktivitas penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit—simbol bahwa kualitas udara telah membaik dan kabut asap berkurang signifikan.
“Harapan kita dalam waktu dekat anak-anak sekolah bisa kembali belajar tatap muka dan mudah-mudahan bandara kita bisa didarati pesawat. Itu barometernya bahwa karhutla tertangani dengan baik dan asap sudah berkurang,” demikian Halikinnor.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.